JAKARTA - Harga minyak naik ke level tertinggi dalam sembilan bulan terakhir pada penutupan perdagangan Jumat. Harga minyak naik 1% dipicu kenaikan harga diesel berjangka AS dan kekhawatiran tentang ketatnya pasokan minyak setelah Arab Saudi dan Rusia memperpanjang pengurangan pasokan.
Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November naik 73 sen atau 0,8% menjadi USD90,65 per barel di London ICE Futures Exchange. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS untuk pengiriman Oktober naik 64 sen atau 0,7% menjadi USD87,51 per barel di New York Mercantile Exchange.
Kedua harga acuan minyak mentah tetap berada di wilayah overbought secara teknis selama enam hari berturut-turut, dengan penyelesaian Brent di tertinggi sejak 16 November. Sedangkan harga WTI merupakan yang tertinggi sejak 6 September.
Untuk minggu ini, kedua harga minyak acuan naik sekitar 2,0% menyusul kenaikan minggu lalu sekitar 5,0% untuk Brent dan sekitar 7,0% untuk WTI.
"Harga minyak mentah terus diperdagangkan berdasarkan faktor penawaran. Tidak ada yang meragukan bahwa OPEC+ akan menjaga pasar tetap ketat hingga musim dingin," Analis Pasar OANDA, Edward Moya, dikutip dari Antara, Sabtu (9/9/2023).
Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya seperti Rusia dan Arab Saudi memperpanjang pengurangan pasokan sukarela mereka sebesar 1,3 juta barel per hari hingga akhir tahun.
Analis Commerzbank dalam sebuah catatannya menilai Arab Saudi mungkin akan kesulitan mengakhiri pemotongannya pada akhir tahun tanpa memicu penurunan harga.
Di AS, perusahaan-perusahaan energi pada minggu ini menambah satu rig minyak, peningkatan mingguan pertama sejak Juni, menurut perusahaan jasa energi Baker Hughes.
Meningkatnya harga solar AS juga mendukung harga minyak mentah bersama minyak pemanas berjangka yang naik sekitar 3,0%.