Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Distributor Ogah Jual Beras ke Supermarket, Ini Penyebabnya

Iqbal Dwi Purnama , Jurnalis-Rabu, 20 September 2023 |13:42 WIB
Distributor <i>Ogah</i> Jual Beras ke Supermarket, Ini Penyebabnya
Distributor Beras Ogah Jual ke Supermarket, Ini Penyebabnya. (Foto: Okezone.com/Antara)
A
A
A

JAKARTA - Ombudsman RI mengungkapkan bahwa para produsen atau distributor mulai enggan menjual beras ke ritel modern. Pasalnya, jualan ke pasar modern wajib mengacu kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang sudah ditetapkan pemerintah.

Anggota Ombudsman RI, Yeka Hendra menilai, kebijakan ini tentu membebankan para produsen ataupun distributor ritel modern. Karena harga gabah sebetulnya memang sudah mahal. Tapi tidak ada regulasi yang mengatur soal harga tersebut.

Oleh karena itu, Ombudsman mengusulkan pemerintah segera mencabut kebijakan HET terutama untuk beras premium. Kebijakan itu dikhawatirkan berdampak sama dengan kasus kelangkaan minyak goreng yang terjadi beberapa waktu lalu.

Produsen justru lebih memilih untuk menahan barangnya ketimbang menjualnya sesuai harga yang ditetapkan oleh pemerintah. Terlebih ketika biaya produksinya tidak masuk dengan standar HET yang ditetapkan pemerintah.

"Maka Ombudsman menyaranhkan agar pasokan beras di pasar modern ini lancar, HET untuk beras premium dihilangkan dulu, tujuannya agar barang masuk dulu ke pasar," kata Yeka, Rabu (20/9/2023).

Sebagai informasi, pemerintah lewat Kementerian Perdagangan telah menerbitkan Permendag Nomor 57/2017 tentang HET Beras. Untuk beras Premium harganya dipatok paling tinggi Rp12.800/kg. Sedangkan saat ini, bulan September, harga rerata nasional untuk jenis beras premium sudah berada diangka Rp14.555/kg.

Sedangkan untuk beras Medium Pemerintah menetapkan harga tertinggi di level Rp10.900/kg. Sedangkan pada Bulan September ini saja, rerata nasional untuk harga beras Medium tembus diangka Rp12.740/kg.

Yeka mengatakan saat ini harga gabah memang cukup tinggi, hal itu disebabkan karena terjadi penurunan produktivitas dari sisi petani lokal. Bahkan harga gabah menurutnya rerata sudah mencapai Rp8.200/kg. Maka dengan harga gabah demikian, sudah bisa dipastikan harga beras diatas HET.

"Harga beras naik, itu dipacu dari harga gabah yang naik. Kalau HET tidak dicabut kasihan tukang dagangnya, sekarang kalau kita lihat di toko, banyak sekali pedagang yang menjual beras premium diatas HET, bukan karena mau untung, tapi memang harganya mahal," pungkasnya.

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement