Selain itu, Ganjar memaparkan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 7% pertahun juga diperlukan dukungan korporasi dan UMKM, pemanfaatan infrastruktur, pengoptimalan potensi ekonomi digital, hingga pengelolaan ekonomi hijau-biru.
Dihubungi terpisah, Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini menyatakan sejak 9 tahun terkahir pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak menunjukkan angka yang ekspansif.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung berjalan stagnan yang berada diangka 5%. Terlebih sejak tahun 2014 lalu, atau periode pertama Presiden Jokowi memimpin Indonesia, pertumbuhan ekonomi hanya berjalan di garis tipis, bahkan angkanya tidak pernah lebih 5,5%.
Jika menilik tren pertumbuhan ekonomi nasional, pada tahun 2014 lalu ekonomi Indonesia tumbuh diangka 5,02% (yoy), tahun 2015 berada turun diangka 4,88%, tahun 2016 tumbuh 5,03%, tahun 2017 tumbuh 5,07%, tahun 2018 tumbuh 5,17%, tahun 2019 tumbuh 5,02%, tahun 2021 3,7% pasca pandemi covid 19, tahun 2022 tumbuh 5,31%.
"Jadi dahulu sudah ada kebijakan yang cukup bagus, yang mampu mendorong ekonomi sampai 7%, apa kebijakan itu, bersaing ekspor di pasar internasional, ditambah dengan kebijakan investasi, menarik dari dalam sama luar negeri, itu mendongkrak sektor besar seperti industri," kata Didik saat dihubungi
(Taufik Fajar)