JAKARTA - WeWork, yang dulu merajai tren co-working, kini menghadapi masalah serius. Mereka baru saja mengajukan bangkrut setelah nilai bisnisnya turun di bawah USD50 juta atau sekitar Rp776 miliar.
Sebelumnya, pada 6 November, nilai bisnis WeWork mencapai puncaknya di USD47 miliar atau Rp730 triliun.
Krisis ini mungkin tidak hanya merugikan WeWork, tetapi juga berdampak pada industri co-working secara keseluruhan. Namun, sejumlah ahli meyakini bahwa kejatuhan WeWork lebih terkait dengan model bisnis mereka daripada kondisi industri secara umum.
WeWork, yang pada awalnya dikenal sebagai pionir dalam konsep co-working, mengambil risiko besar dengan model bisnis kepemilikan properti. Berbeda dengan banyak pesaingnya yang bermitra dengan pemilik properti, WeWork memilih jalur kontrak sewa jangka panjang dan mengumpulkan semua pendapatan keanggotaan secara langsung.
Model ini, sementara memungkinkan WeWork meraih keuntungan lebih besar, juga membawa risiko lebih tinggi. Selama pandemi COVID-19, pembatalan keanggotaan menyebabkan pendapatan menurun, membuat WeWork kesulitan membayar sewa untuk lokasi-lokasi mereka.
Tercatat bahwa WeWork memiliki utang hampir USD19 miliar atau setara Rp295 triliun, untuk mendukung 777 lokasi di 39 negara. Utang ini, sebagian besar terkait dengan kontrak sewa jangka panjang yang sekarang sulit untuk dibayar.
Meskipun tantangan besar dihadapi WeWork, para ahli meyakini bahwa masa depan co-working tidak sepenuhnya suram. Industri co-working tetap dilihat sebagai solusi yang relevan, terutama dengan semakin berkembangnya pekerjaan jarak jauh dan pola kerja hybrid.
CEO dan pendiri FlexJobs, Sara Sutton, mengatakan bahwa pandemi telah membuat co-working semakin diterima. Bukan hanya di kalangan pekerja lepas, tapi juga di kalangan organisasi yang mencari fleksibilitas tanpa harus memiliki kantor fisik permanen.
Meskipun WeWork telah menjadi ikon dalam dunia co-working, kejatuhan mereka membuka peluang bagi penyedia co-working lain untuk tumbuh. Dalam menghadapi perubahan preferensi pekerja, banyak perusahaan co-working lebih terfokus pada lokasi hiperlokal, sesuai dengan kebutuhan pekerja yang tidak lagi ingin melakukan perjalanan ke pusat kota.
Baca Selengkapnya: WeWork Bangkrut, Utang Perusahaan Capai Rp295 Triliun
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.