JAKARTA - Pabrik sepatu Bata di Purwakarta resmi ditutup. Pada postingan di media sosial, terekam ratusan pekerja pabrik berbondong-bondong meninggalkan tempat mereka mencari nafkah.
Para pekerja tersebut tampak berjalan ke arah luar pabrik sambil masih mengenakan seragam Bata mereka yang berwarna merah. Sang perekam video tampak beberapa kali mengucap kalimat perpisahan.
Dikutip Bursa Efek Indonesia (BEI), Minggu (5/5/2024) laporan keuangan BATA sangat menurun sejak pandemi Covid-19 pada 2020. Di mana BATA mencatatkan rugi tahun berjalan hingga Rp 177,76 miliar.
Kemudian terus berlanjut di 2021 dan 2022 yang masih merugi masing-masing sebesar Rp61,23 miliar dan Rp 106,12 miliar. Bahkan kerugian BATA semakin membengkak menjadi Rp 190,56 miliar di 2023.
Padahal perusahaan meraih laba sebesar 23,44 miliar pada 2019. Dan pendapatan BATA juga turun drastis di 2020 menjadi Rp459,59 miliar dari 2019 yang sebesar Rp931,27 miliar.
Bata juga menjual aset tanah dan bangunan senilai Rp63,4 miliar sebelum menutup pabrik di Purwakarta, Jawa Barat. Penjualan dilakukan untuk memberikan dana kas dan melunasi sebagian utang pada 7 Maret 2024.
Bata sendiri memiliki sejarah panjang dalam industri alas kaki Tanah Air. Sejak pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1931, Bata sukses menjadi salah satu sepatu favorit.
Banyak yang mengira Bata adalah produk dalam negeri. Padahal, produk alas kaki yang stau ini berasal dari Ceko, dengan pendirinya sebuah keluarga bernama Tomas, Anna, dan Antonin Bata.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.