“Demi kepentingan, kalian tidak mementingkan suku yang udah lama tinggal di dalam hutan,” tulis @rembojati
Sebagai informasi, suku Togutil merupakan suku yang mendiami pedalaman hutan Halmahera, Maluku Utara dan masih primitif dengan gaya hidup nomaden. Masyarakat Togutil tidak mengakui sebutan 'Togutil' karena memiliki makna yang negatif yaitu terbelakang atau primitif.
Suku Togutil dulunya meyakini adanya kekuatan dan kekuasaan tertinggi yaitu Jou Ma Dutu. Oleh karena itu mereka sangat memelihara alam.
Hutan adalah rumah bagi Suku Togutil, sehingga pohon dianggap sebagai sumber kelahiran generasi baru.
Bahkan beberapa kelompok masyarakat di daerah Baborino, Kecamatan Maba Halmahera Timur, menggunakan pohon sebagai lambang kelahiran seorang bayi. Ketika seorang bayi lahir, maka salah satu anggota keluarga harus menanam pohon baru.
Suku Togutil mengandalkan hasil alam untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti meramu sagu, berburu babi dan rusa, mencari ikan di sungai, dan berkebun.
Suku yang dikenal sangat tertutup ini mempunyai tingkat kewaspadaan yang tinggi. Mereka cenderung curiga terhadap orang asing dan menganggapnya sebagai ancaman.
Jika merasa terancam, mereka melakukan penyerangan yang berakibat fatal bahkan sampai menelan korban jiwa.
Namun seiring berjalannya waktu, suku Togutil kini mulai mengikuti perkembangan zaman dan sudah ada yang tinggal di luar hutan.
(Dani Jumadil Akhir)