Dari segi digital, para pelaku usaha kecil sadar akan manfaat perangkat digital, tetapi tidak memiliki keterampilan untuk menggunakannya. Pemilik UMK menganggap rendahnya literasi digital (38%), keraguan akan teknologi yang perlu diadopsi (35%), dan biaya investasi teknologi terlalu tinggi (31%) sebagai isu paling mendesak yang menghambat pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan operasi bisnis mereka.
Sedangkan untuk akses kredit, laporan tersebut menunjukkan bahwa para pelaku UMK di Indonesia cenderung tidak banyak yang mengajukan kredit kepada bank. Data statistik menunjukkan dua pertiga UMK tidak mengakses kredit atau pinjaman dalam 12 bulan terakhir, dan 62% menyatakan tidak membutuhkan kredit, mencerminkan tren kemandirian finansial di kalangan UMK.
Kabar baiknya adalah UMK yang dipimpin lelaki dan perempuan berada pada posisi yang cukup setara dalam mengakses layanan dukungan. Persentase UMK yang dipimpin lelaki (33%) dan perempuan (32%) yang mampu mengakses layanan dukungan hampir sama, dan UMK yang dipimpin perempuan melaporkan kinerja bisnis yang hampir setara dengan UMK yang dipimpin lelaki di berbagai indikator pengukuran.
Adapun metodologi yang digunakan untuk melakukan riset ini adalah metode wawancara yang dilakukan kepada 835 narasumber para pelaku usaha kecil yang tersebar merata dari area perkotaan hingga pedesaan dengan jangka waktu November 2023 - Januari 2024.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.