Selain membangun ekosistem pendukung tumbuhnya energi terbarukan, salah satunya energi surya, dan membuka akses informasi kepada masyarakat untuk bisa memanfaatkan energi terbarukan secara mandiri, aksi dukungan pada kebijakan energi tetap harus digalakkan. Manajer Program Akses Energi Berkelanjutan IESR Marlistya Citraningrum menyebutkan bahwa energi surya merupakan sumber energi yang demokratis.
"Dari beragam contoh pengembangan energi surya di Indonesia, terdapat empat catatan penting untuk memastikan dampaknya berkelanjutan,” ucapnya.
Dia merinci yang pertama berorientasi pada pengguna dan dampaknya, kedua identifikasi sistem yang sesuai dengan konteks lokal, ketiga pendampingan berkelanjutan bagi komunitas dan masyarakat, serta keempat pengelolaan yang profesional.
Dalam kesempatan yang sama, Vice President Penjualan PT PLN (Persero) Rahmi Handayani menjelaskan kenaikan pelanggan PLTS atap menjadi cerminan minat masyarakat menggunakan energi surya.
Dari 2018—2024 jumlah pelanggan PLTS atap naik 15 kali, dari 609 menjadi 9.324 pelanggan. Secara kapasitas juga naik dari 2 MWp pada 2018 menjadi 197 MWp pada tahun 2024, atau naik sebanyak 98 kali.
"Minat masyarakat pada PLTS atap tinggi juga. Terlihat dari kuota PLTS atap pada Juli 2024 yang terjual sebanyak 88% atau 901 MWp," kata Rahmi.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.