Sebagai induk usaha, ASDP mengoperasikan 207 lintasan perintis yang menjangkau wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Kehadiran layanan perintis ini menjadi tulang punggung logistik masyarakat di berbagai daerah, di mana beberapa wilayah bahkan masih sangat bergantung pada kapal ferry untuk pemenuhan pasokan bahan pokok hingga layanan kesehatan.
Dengan demikian, JN berperan sebagai penguat backbone konektivitas di jalur besar antar-pulau, sementara ASDP memastikan keterhubungan hingga ke wilayah 3T. Keduanya membentuk ekosistem transportasi ferry yang saling melengkapi, menjaga kelancaran arus barang dan penumpang dari pusat pertumbuhan ekonomi hingga daerah terluar.
Shelvy menegaskan, sinergi antara ASDP dan JN bukan hanya soal menjaga arus penyeberangan antarwilayah besar, tetapi juga memastikan pemerataan logistik hingga ke daerah terpencil.
“Konektivitas inilah yang menjadi fondasi penting bagi pemerataan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat, sehingga roda ekonomi lokal dapat terus bergerak,” ujarnya.
Dengan penguatan armada JN dan jangkauan layanan ASDP di lintasan perintis, keduanya berkomitmen menghadirkan transportasi yang inklusif dan adaptif. Kehadiran layanan ferry, baik di rute utama maupun rute 3T, diyakini menjadi solusi nyata dalam mendukung ketahanan pangan, stabilitas logistik, dan daya saing ekonomi daerah.
“Ke depan, kami akan terus meningkatkan sinergi dan beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat maupun arus logistik nasional. Fokus kami adalah menciptakan konektivitas yang inklusif, andal, dan mudah dijangkau, agar seluruh lapisan masyarakat merasakan manfaatnya,” katanya.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.