“Kualitas menjadi kunci. Peningkatan persentase pemanfaatan bioenergi tidak akan berjalan jika standar mutu dan pengujian tidak dijaga dengan ketat,” ujarnya.
Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir menambahkan bahwa kerja sama ini menjadi salah satu yang tercepat direalisasikan karena kebutuhan teknis di lapangan sudah sangat jelas. Saat ini, PLN EPI saat ini mengelola pasokan bioenergi lebih dari dua juta ton per tahun dengan hampir seratus mitra, namun masih menghadapi tantangan besar dari sisi kualitas dan karakteristik biomassa.
“Kualitas terus membaik dari tahun ke tahun, tapi itu belum cukup. Kami butuh pengujian yang kredibel dan independen sejak awal agar standar bisa dijaga konsisten,” ujar Hokkop.
Dia menjelaskan, kerja sama juga mencakup penyusunan kajian pendahuluan dan kajian kelayakan guna memastikan aspek teknis dan komersial proyek lebih terkontrol sejak tahap awal. Pengembangan standar mutu menjadi prioritas mengingat PLN EPI menargetkan pengembangan hingga 22 fasilitas produksi bioenergi hingga 2030.
“Volume besar tidak akan berarti jika mutunya tidak terjamin. Kami ingin kualitasnya dulu dikunci. Dengan keterlibatan BBSP KEBTKE, kami optimis pengembangan bioenergi bisa lebih disiplin, terukur, dan berkelanjutan,” kata Hokkop.
PLN EPI menargetkan kerja sama ini segera masuk tahap implementasi mulai awal tahun depan sebagai bagian dari strategi menekan emisi, memperkuat bauran energi nasional, dan menjaga ketahanan energi jangka panjang.
Melalui penguatan standar dan kolaborasi teknis yang solid, bioenergi bukan hanya menjadi jembatan transisi, tetapi fondasi nyata menuju sistem energi rendah karbon yang andal dan berkelanjutan.
(Dani Jumadil Akhir)