Bahlil mengakui kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan resistensi dari sebagian pelaku usaha. Namun, ia menegaskan tidak akan mundur karena keputusan itu diambil demi kepentingan bangsa dan negara.
"Saya tahu ini pasti banyak orang yang membenci saya karena RKAB dipotong. Tapi untuk ibu pertiwi, saya tidak akan mundur, jangankan selangkah, sejengkal pun saya tidak akan mundur, dan saya akan hadapi semuanya," pungkasnya.
Sekedar informasi, Kementerian ESDM menetapkan produksi batu bara pada tahun 2026 dijaga di bawah 600 juta ton. Sementara untuk komoditas nikel, produksinya dibatasi di angka 250-260 juta ton.