JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tren pelemahan, meski sudah menguat dalam dua hari terakhir. Bahkan, Rupiah sempat melemah mendekati level Rp17.000 per USD.
Kini nilai tukar Rupiah berangsur menguat. Tercatat, pada pembukaan perdagangan Jumat 23 Januari 2026, Rupiah bergerak menguat 49 poin atau 0,29 persen menjadi Rp16.847 per USD dari sebelumnya Rp16.896 per USD. Sementara pada penutupan perdagangan, Rupiah menguat 76 poin atau sekitar 0,45 persen ke level Rp16.820 per USD.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa hingga Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo sudah angkat bicara mengenai pergerakan Rupiah. Purbaya meyakini Rupiah bisa menguat dalam semalam.
Di sisi lain, pencalonan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI turut mematik isu pelemahan Rupiah meski dibantah Purbaya.
Berikut ini Okezone rangkum fakta-fakta Rupiah mendekati Rp17.000 per USD hingga Purbaya turun tangan, Jakarta, Senin (26/1/2026).
Purbaya Yudhi Sadewa menepis kekhawatiran pasar yang mengaitkan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS dengan isu pencalonan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI.
Purbaya menegaskan bahwa pergerakan Rupiah didorong oleh faktor fundamental yang lebih luas dan saat ini berada dalam jalur penguatan.
Purbaya menekankan bahwa tren pelemahan Rupiah sebenarnya telah terjadi jauh sebelum pengumuman kandidat baru bank sentral, sehingga isu transisi jabatan tersebut bukan merupakan pemicu utama.
"Kalau Anda lihat kan Rupiah melemah sebelum Pak Thomas ditunjuk, melemah terus-terusan, jadi itu bukan isu. Ada hal yang menjadi faktor," ungkap Purbaya di Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Purbaya membawa pesan positif dengan memastikan bahwa pemerintah dan otoritas moneter memiliki kesepahaman yang solid untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Dirinya memberikan dukungan penuh terhadap strategi yang dijalankan oleh Bank Indonesia dalam melakukan intervensi pasar yang diperlukan.
"Yang paling penting adalah sekarang, Gubernur Bank Sentral, Kementerian Keuangan, dan semua elemen pemerintah dan Bank Sentral itu setuju untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Dan kita percaya Bank Sentral punya strategi yang pas lah untuk mengendalikan nilai tukar," jelasnya.
Menyusul penguatan tipis pada sesi perdagangan sebelumnya, Purbaya memproyeksikan bahwa posisi Rupiah akan terus membaik. Optimisme ini didasarkan pada perbaikan fundamental ekonomi Indonesia yang secara konsisten dilakukan oleh pemerintah melalui berbagai bauran kebijakan.
"Kan kemarin juga sudah menguat, kan. Harusnya sih kalau perkiraan saya enggak salah, hari ini juga akan menguat terus. Karena fundamental ekonomi kita diperbaiki terus dan akan semakin membaik ke depan. Jadi Anda enggak usah khawatir," tegas Purbaya.
Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar Rupiah pada 20 Januari 2026 mencapai Rp16.945 per dolar AS atau melemah 1,53% (point to point/ptp) dibandingkan dengan level akhir Desember 2025.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, pelemahan nilai tukar Rupiah dipengaruhi oleh aliran keluar modal asing akibat meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Selain itu, kenaikan permintaan valuta asing oleh perbankan dan korporasi domestik sejalan dengan aktivitas ekonomi turut memengaruhi kinerja Rupiah.
"Juga ada faktor-faktor domestik. Tentu saja, tadi kami sampaikan aliran modal asing keluar juga karena adanya kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi, termasuk oleh Pertamina, PLN, maupun Danantara, serta persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan proses pencalonan Deputi Gubernur BI," ujarnya dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (21/1/2026).
Selain faktor domestik, Perry menyebut faktor global turut memengaruhi pelemahan nilai tukar Rupiah. Ketidakpastian pasar keuangan global meningkat, terutama dipicu kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat serta meluasnya eskalasi ketegangan geopolitik.
Perkembangan ini mengakibatkan tertahannya aliran modal ke emerging market (EM) dan mendorong penguatan indeks mata uang dolar AS (DXY) terhadap mata uang negara maju.
"Seperti tadi kami sampaikan, faktor-faktor global itu terkait kondisi global, baik karena geopolitik maupun kebijakan tarif Amerika Serikat. Selain itu, tingginya imbal hasil US Treasury, baik tenor dua tahun maupun tiga tahun, serta kemungkinan penurunan Fed Funds Rate yang lebih kecil," tambahnya.
Perry mengatakan nilai tukar Rupiah diprakirakan akan stabil dengan kecenderungan menguat, didukung oleh imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik.
"Kami akan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan membawanya untuk menguat, didukung oleh kondisi fundamental ekonomi yang baik, termasuk imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, serta prospek ekonomi yang membaik," pungkasnya.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menekankan bahwa strategi utama pemerintah untuk menjaga dan memperkuat nilai tukar Rupiah adalah dengan memastikan fundamental ekonomi nasional tetap kuat.
“Secara khusus yang paling penting adalah bagaimana kemudian kita memastikan bahwa fundamental ekonomi kita itu kuat. Kemudian sektor-sektor riil bagaimana didorong untuk itu tumbuh dan berkembang. Karena kuncinya di situ, kuncinya adalah di fundamental ekonomi kita, di sektor riil kita,” ujar Prasetyo kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Prasetyo mengatakan bahwa pemerintah menilai percepatan dan efektivitas belanja negara dapat berperan sebagai stimulus ekonomi yang turut menopang stabilitas makroekonomi, termasuk nilai tukar Rupiah.
“Kemudian di awal tahun, seperti biasa, government spending kita juga kemarin salah satu yang dibahas karena kita menghendaki di awal tahun belanja pemerintah juga sudah bisa optimum. Karena ini bagian dari salah satu stimulus ekonomi,” jelasnya.
Prasetyo menyampaikan bahwa pertemuan dengan Menteri Keuangan (Menkeu) di Jakarta, Rabu (21/1) kemarin, tidak secara khusus membahas soal nilai tukar rupiah yang hampir menyentuh angka Rp17.000.
Dia hanya membeberkan bahwa tim ekonomi yang terdiri dari Menteri Keuangan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Investasi dan Hilirisasi serta Danantara secara rutin berkoordinasi untuk menyelaraskan kebijakan yang saling berkaitan.
“Jadi kami memang rutin saling berkoordinasi di antara beberapa kementerian dan lembaga yang membidangi masalah ekonomi. Menko Ekonomi, kemudian Menteri Keuangan, kemudian Gubernur Bank Indonesia, kemudian juga Menteri Investasi sekaligus CEO Danantara,” katanya.
Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada akhir perdagangan Jumat (23/1/2026), naik 76 poin atau sekitar 0,45 persen ke level Rp16.820 per USD.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan Rupiah ini salah satunya didorong sentimen eksternal yaitu pasar saat ini menunggu pemilihan Presiden AS Donald Trump untuk Ketua Fed berikutnya yang menggantikan Jerome Powell.
"Ketua The Fed yang lebih lunak akan meningkatkan spekulasi tentang penurunan suku bunga lebih lanjut tahun ini," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Selain itu data ekonomi AS terbaru juga menunjukkan bahwa perekonomian berjalan lebih baik dari yang diperkirakan. Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kuartal ketiga melebihi perkiraan.
Dari sentimen domestik, Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) meminta Bank Indonesia (BI) untuk berhati-hati dalam melakukan intervensi Rupiah di pasar valuta asing, seraya menegaskan nilai tukar rupiah harus tetap berfungsi sebagai peredam guncangan utama di tengah tingginya ketidakpastian global.
IMF menilai pengaturan nilai tukar Indonesia masih mengambang secara de facto. Artinya, secara praktik, rupiah dibiarkan bergerak mengikuti mekanisme pasar, dengan pergerakan rupiah yang signifikan selama episode tekanan eksternal terbaru.
Dalam kondisi tersebut, BI menerapkan intervensi valuta asing (foreign exchange intervention/FXI) untuk mengelola volatilitas nilai tukar. IMF mencatat intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen, mulai dari pasar spot valuta asing, domestic non-deliverable forward (DNDF), hingga intervensi non-deliverable forward (NDF) di luar negeri. Namun demikian, IMF menekankan intervensi harus dilakukan secara bijaksana dan terukur.
Di sisi lain, lembaga moneter dunia tersebut juga menekankan bahwa upaya stabilisasi nilai tukar tidak boleh menghambat penyesuaian fundamental yang diperlukan, serta harus mempertimbangkan kebutuhan menjaga kecukupan cadangan devisa di tengah lingkungan eksternal yang rawan guncangan.
IMF menilai posisi cadangan devisa Indonesia saat ini tetap memadai dan menyambut baik langkah otoritas dalam mengisi kembali cadangan ketika tekanan eksternal mulai mereda.
(Dani Jumadil Akhir)