Terlebih, investasi nikel di Indonesia dinilai mengalami kemajuan signifikan, terutama setelah kebijakan hilirisasi mendorong pembangunan smelter dan meningkatkan nilai tambah komoditas strategis tersebut.
Menurut Ibrahim, kehadiran smelter membuat Indonesia tidak lagi mengekspor bahan mentah, melainkan produk setengah jadi hingga produk jadi. Hal ini meningkatkan harga jual nikel sekaligus menarik minat investor asing dalam jangka panjang.
“Dulu kita ekspor bahan mentah dengan harga murah. Sekarang, dengan smelter, nilai jualnya jauh lebih tinggi dan manfaat ekonominya lebih besar bagi Indonesia,” ujarnya.
Ibrahim juga menyoroti dampak positif industri nikel terhadap wilayah Indonesia timur, terutama dalam peningkatan lapangan kerja dan kesejahteraan masyarakat sekitar tambang, seiring meningkatnya permintaan nikel untuk industri baterai kendaraan listrik.
(Feby Novalius)