“Artinya, kesenjangan masih tinggi. Gini rasio pun menjadi perhatian. Makanya angka BPS yang menyatakan Gini rasio 0,375 dipertanyakan banyak pihak,” ujarnya.
Fiskal menunjukkan bahwa sektor riil Indonesia tidak berdaya. Kelas menengah jatuh, daya beli ambruk, dan sektor UMKM masih stagnan. Koperasi Merah Putih pun belum bisa berjalan optimal. Meski ada beberapa prestasi, misalnya cadangan beras yang surplus, situasinya secara keseluruhan tetap lemah.
“Walaupun indeks keyakinan konsumen membaik, kontribusi industri justru menurun, dan lapangan kerja tidak meningkat. PHK pun masih berlangsung,” ujar Ichsanuddin.
Ia menambahkan, kombinasi faktor-faktor ini dalam terminologi akademik disebut sebagai kelumpuhan ekonomi. Menurut data yang dimilikinya selama 61 tahun, rupiah tidak pernah menguat. Oleh karena itu, isu redenominasi tidak relevan, karena secara historis rupiah selalu terdepresiasi akibat kelemahan struktural yang berlangsung jangka panjang.
“Kelemahan jangka panjang ini berdampak pada price stability atau stabilitas harga. Price ability, kemampuan mengendalikan harga, dari fiskal dan moneter lemah, sehingga diserahkan sepenuhnya pada kekuatan pasar. Dampaknya, stabilitas harga terganggu,” jelasnya.