Dengan estimasi produktivitas rata-rata 10 ton per hektare, pasokan bawang merah dari Cirebon dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan selama Ramadan hingga Idulfitri.
“Artinya, Kabupaten Cirebon siap mengamankan pasokan bawang merah untuk puasa dan Lebaran,” tegasnya.
Agung juga menyampaikan bahwa Cirebon telah menerapkan pola tanam berkelanjutan agar produksi tetap terjaga. Setelah panen, petani langsung melakukan pengolahan lahan dan penanaman kembali tanpa jeda panjang. Saat ini, sekitar 500 hektare lahan telah kembali ditanami.
“Tidak ada istilah lahan tidur. Panen ada, tanam juga ada. Ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian agar produksi dan harga bawang merah tetap aman dan stabil,” ucapnya.
Selain itu, Agung memastikan kelancaran pasokan dan stabilitas harga bawang merah di tingkat konsumen. Dari sisi distribusi, bawang merah hasil panen Cirebon hanya memerlukan waktu pengeringan sekitar dua hingga tiga hari sebelum dipasarkan, termasuk ke wilayah Jabodetabek.
Untuk harga, Agung menyebut bawang merah di tingkat petani saat ini berada di kisaran Rp25.000 per kilogram. Dengan kondisi tersebut, harga di tingkat konsumen diperkirakan berada di kisaran Rp35.000 per kilogram, sesuai harga acuan pemerintah.
“Harga berada di rel yang tepat. Petaninya mendapat harga wajar, konsumennya juga bisa fokus beribadah menyambut Ramadan,” katanya.