JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto memgumumkan program Gentengisasi. Progam ini sebagai upaya mempercantik estetika permukiman sekaligus meningkatkan kenyamanan hunian rakyat di seluruh pelosok negeri. Ditargetkan dengan adanya program ini Indonesia ditargetkan bebas atap seng dalam 3 tahun.
Usai pengumuman ini, para menteri terkait langsung bergegas untuk mewujudkan program Gentengisasi. Misalnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan menyiapkan anggaran Gentengisasi yang dinilai tidak akan sampai Rp1 triliun. Proyek Gentengisasi merupakan pilar utama dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah).
Berikut ini Okezone rangkum fakta-fakta Prabowo umumkan Program Gentengisasi, Jakarta, Minggu (8/2/2026).
Prabowo menyoroti kondisi permukiman di perkotaan hingga pedesaan yang saat ini didominasi oleh penggunaan atap seng yang dinilai tidak ideal.
"Salah satu dalam rangka indah, saya lihat Saudara-saudara, semua kota, semua kota, kecamatan, hampir semua desa kita sekarang, maaf ya, terlalu banyak genteng dari seng. Seng ini panas untuk penghuni. Seng ini juga berkarat. Jadi tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng," ujar Prabowo saat mengumumkan program Gentengisasi saat Rakornas Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Tahun 2026 yang digelar di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026).
Prabowo juga menyinggung ketergantungan terhadap industri aluminium dan mendorong alternatif material yang lebih sesuai dengan kondisi Indonesia. "Maaf, saya tidak tahu ini dari dulu industri aluminium dari mana ya. Maaf, bikin yang lain-lain, deh," imbuhnya.
Prabowo menegaskan keinginannya agar seluruh rumah di Indonesia menggunakan genteng sebagai atap utama. Gagasan tersebut kemudian dinamainya sebagai proyek gentengisasi nasional. Untuk mendukung program ini, Koperasi Merah Putih akan dilengkapi dengan fasilitas produksi genteng.
"Saya ingin semua atap Indonesia pakai genteng. Jadi ini nanti gerakannya adalah gerakan, proyeknya adalah proyek gentengisasi seluruh Indonesia. Alat-alat genteng itu, alat pabrik genteng itu tidak mahal. Jadi nanti koperasi-koperasi Merah Putih akan kita lengkapi dengan pabrik genteng. Genteng itu bahan bakunya dari tanah dan dengan dicampur dengan beberapa zat limbah lainnya bisa ringan dan kuat," kata Prabowo.
Saat penjelasan berlangsung, layar utama di panggung menampilkan perbandingan visual kondisi rumah sebelum dan sesudah gentengisasi. Presiden mengajak para kepala daerah untuk turut berpartisipasi aktif memperindah wilayah masing-masing.
"Ini serius ya. Bupati, wali kota yang tidak mau kotanya indah terserah. Yang mau ayo bersama kita bikin kotamu indah, bikin kecamatanmu indah, bikin desamu indah. Bagaimana?" ujar Prabowo.
Prabowo juga menyinggung penggunaan material atap tradisional pada masa lalu seperti rumbia dan ijuk yang dinilai lebih sejuk dan ramah lingkungan. Ia kembali menegaskan penolakannya terhadap penggunaan seng yang mudah berkarat.
"Saya mengajak ini sangat penting, turis dari luar untuk apa dia datang melihat seng berkarat. Karat itu lambang degenerasi. Saya berharap dalam 2-3 tahun Indonesia tidak akan kelihatan karat. Karat adalah lambang degenerasi, bukan lambang kebangkitan. Indonesia bangkit, Indonesia harus kuat, Indonesia harus indah, rakyat kita harus bahagia!" ujar Prabowo.
Menkeu Purbaya menegaskan bahwa kebutuhan dana untuk program Gentengisasi tersebut relatif kecil dan masih berada dalam batas yang terkendali. Menurut Purbaya, estimasi besar yang beredar di masyarakat selama ini merupakan hasil perhitungan kasar yang mengasumsikan seluruh rumah di Indonesia akan diganti atapnya. Padahal, sasaran program ini sangat spesifik dan hanya mencakup sebagian rumah yang masih menggunakan seng.
“Gentengisasi enggak sampai Rp1 triliun (anggarannya),” kata Purbaya di Hotel Shangri-La Jakarta, Selasa (3/2/2026).
“Kan kita juga ada cadangan,” imbuhnya.
Purbaya menjelaskan bahwa dalam implementasinya, pemerintah akan melakukan kurasi terhadap rumah-rumah yang benar-benar memerlukan penggantian. Hal inilah yang membuat realisasi anggaran diprediksi jauh lebih kecil dibandingkan perkiraan publik.
“Yang diganti paling berapa puluh persen diganti yang pakai seng. Jadi harusnya angkanya lebih kecil,” ungkapnya.
Terkait sumber dana, Purbaya menyebut pemerintah memiliki fleksibilitas fiskal. Ia tidak menampik adanya kemungkinan pemanfaatan cadangan negara atau pengalihan dari pos lain yang memungkinkan.
“Ada kemungkinan dari situ (anggaran Makan Bergizi Gratis yang dipotong), ada kemungkinan dari tempat lain. Tapi cukuplah nggak banyak-banyak banget kalau nggak salah anggarannya,” jelas Purbaya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, program Gentengisasi akan meningkatkan estetika kawasan wisata nasional dengan mengganti atap-atap seng yang berkarat menjadi genteng berkualitas yang ramah lingkungan.
Airlangga menilai sektor pariwisata adalah low hanging fruit atau peluang emas yang paling cepat mendatangkan devisa, namun hal tersebut sulit tercapai jika keindahan visual terganggu oleh tumpukan sampah dan pemandangan atap yang kumuh.
"Turis tidak akan datang kalau sampahnya numpuk dan atapnya semua atap seng yang berkarat, sehingga Bapak Presiden pendekatannya dua hal. Kalau untuk sampah ditangani dengan Danantara. Yang kedua ya kita sedang, tadi sedang menghitung kalau atap seng itu diganti dengan genteng," ujar Airlangga.
Inovasi dari program ini adalah penggunaan genteng berbasis fly ash (abu sisa pembakaran batu bara). Airlangga mengonfirmasi bahwa pemerintah tengah melakukan studi mendalam dan sudah mulai menghitung alokasi pembiayaan yang kemungkinan besar akan didukung oleh negara.
"Dan gentengnya itu berbasis kepada memanfaatkan fly ash. Nah itu sudah ada studinya nanti akan segera disampaikan," jelasnya.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait bakal melakukan peninjauan langsung terhadap industri genteng dalam negeri.
“Soal gentengisasi, tentu itu sudah arahan Presiden. Kami akan pelajari, kami persiapkan,” ujar Menteri yang akrab disapa Ara saat ditemui di Gedung BRI I, Jakarta Pusat, Rabu (4/2/2026).
Ara menekankan dukungan program gentengisasi mesti dipandang sebagai cara menghidupkan ekosistem ekonomi yang menunjang program tersebut. Dia teringat daerah pemilihannya di Majalengka sewaktu menjabat anggota DPR RI, yang memiliki keunggulan kompetitif soal bahan genteng.
“Dulu terkenal itu genteng dari Jatiwangi. Nanti saya akan datang ke sana, saya akan lihat ya bagaimana industrinya, kualitasnya, bagaimana kemampuan produksinya, bagaimana harganya,” ujarnya.
Melalui inisiatif tersebut, Ara meyakini program gentengisasi dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergerak di sektor produksi genteng.
“Mungkin dalam waktu dekat saya akan datang ke Majelengka, ke pusat-pusat genteng yang ada di Indonesia, juga bagaimana ini bisa dirasakan kebijakan Presiden oleh UMKM, oleh industri, oleh pengusaha-pengusaha lokal,” kata Ara.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), saat ini masih terdapat sekitar 31,48 persen atau sekitar 22,2 juta rumah tangga yang menggunakan seng.
Sementara itu, mayoritas rumah tangga di Indonesia (57,93 persen) sudah menggunakan genteng sebagai pelindung utama hunian mereka.
Pemerintah saat ini masih terus mematangkan perhitungan final agar program ini dapat berjalan efisien tanpa membebani keuangan negara secara berlebihan.
(Dani Jumadil Akhir)