Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Purbaya: Siklus Ekspansi Ekonomi RI Bisa Bertahan hingga 2033

Anggie Ariesta , Jurnalis-Minggu, 15 Februari 2026 |08:20 WIB
Purbaya: Siklus Ekspansi Ekonomi RI Bisa Bertahan hingga 2033
Menkeu Purbaya (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan Indonesia memiliki peluang besar untuk menikmati masa keemasan ekonomi dalam jangka panjang. Menurutnya, fase ekspansi ekonomi yang dimulai pascapandemi Covid-19 pada tahun 2023 berpotensi terus berlanjut hingga sepuluh tahun ke depan, yakni hingga tahun 2033.

Purbaya menjelaskan bahwa meskipun secara historis siklus ekspansi bisnis di Indonesia biasanya hanya bertahan sekitar tujuh tahun, intervensi kebijakan yang tepat dapat memperpanjang nafas pertumbuhan tersebut.

"Siklus bisnis perekonomian Indonesia hanya sekitar 7 tahun ekspansi. Tapi kalau kita (kebijakannya tepat) ekspansinya bisa 10 tahun," tegas Purbaya dalam Konferensi Pers Indonesia Economic Outlook, Jumat (13/2/2026).

Menkeu menilai pola pertumbuhan saat ini berada pada jalur yang kuat. Jika siklus berjalan normal, masa ekspansi setidaknya akan bertahan hingga 2030, namun pemerintah berupaya maksimal agar tren positif ini mencapai puncaknya di 2033.

"Sekarang ekspansinya seperti apa itu seperti takdir, itu bola kristal yang biasanya akurat ya biasanya mau tumbuhnya berapa nanti kita pikirkan ke depan," kata dia.

Meski fokus mendorong pertumbuhan secara optimal, Purbaya menegaskan pemerintah tidak akan gegabah. Jika laju pertumbuhan menyentuh angka 7 persen, pemerintah sudah menyiapkan langkah antisipatif guna menghindari risiko ekonomi yang terlalu panas (overheating).

 

“Nanti kalau sudah 7 persen tentu ada strategi untuk mengubah struktur perekonomian. Sekarang belum dijalankan sekarang (kami) mendorong pertumbuhan ekonomi secara optimal," tegasnya.

Di tengah ambisi pertumbuhan tersebut, Menkeu memastikan pemerintah tetap memegang teguh prinsip disiplin fiskal dengan menjaga defisit APBN di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Ia meyakini bahwa pertumbuhan tinggi tidak selalu berarti harus menambah beban utang secara berlebihan.

Purbaya mengambil contoh keberhasilan masa lalu di mana pertumbuhan ekonomi mencapai 6 persen, namun rasio utang justru melandai karena sektor swasta berperan aktif sebagai motor penggerak utama.

“Kalau sektor swasta bergerak kuat, utang bisa tetap terkendali, bahkan turun, sementara ekonomi tumbuh lebih cepat,” ujarnya.

Strategi ke depan akan mengandalkan kolaborasi dua mesin utama, yakni efektivitas belanja pemerintah dan penguatan ekspansi sektor swasta untuk mencapai target ekonomi nasional tanpa mengguncang stabilitas fiskal.

(Taufik Fajar)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement