JAKARTA - Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia bisa kehilangan Rp39,29 triliun. Selain itu, pendapatan masyarakat hilang mencapai Rp39,05 triliun dan 330 ribu orang berpotensi besar kehilangan pekerjaan. Hal ini merupakan kajian Center of Economic and Law Studies (Celios) mengenai dampak BUMN Agrinas Pangan Nusantara impor 105.000 unit pikap dan truk buatan India.
Agrinas impor 105.000 mobil asal India tersebut senilai Rp24,66 triliun untuk operasional logistik Koperasi Desa Merah Putih.
Ekonom Celios Nailul Huda menekankan soal importasi kendaraan dari India ini bakal berpotensi besar mencerabut mata pencaharian pekerja pabrik otomotif. Tak hanya itu, ada pelaku usaha seperti pemilik bengkel perbaikan hingga penyedia suku cadang, yang turut terdampak. Hingga akhirnya, pengusaha besar yang memiliki pabrik berskala nasional bakal terguncang kestabilan keuangannya.
"Tidak ada aktivitas ekonomi yang diciptakan dari importasi ini. Bahkan bisa menggerus pangsa pasar dari produk pickup yang sudah diproduksi atau dirakit dalam negeri. Ekonomi kita bisa menyusut karena impor ini akan mengurangi PDB," kata Huda kepada Okezone di Jakarta.
Huda mewanti-wanti potensi Purchasing Managers' Index (PMI) sektor manufaktur yang seharusnya terkerek naik, jika Agrinas mengedepankan produsen dalam negeri. Sebab, bakal ada efek berganda dari aktivitas produksi ratusan ribu kendaraan untuk operasional logistik Koperasi Merah Putih ini.
Selain menggerus perekonomian, langkah Agrinas juga dianggap menyalahi aturan soal mekanisme Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
"Industri otomotif, khususnya yang menjual mobil pick up, akan mengalami kerugian. Maka mereka akan mengurangi produksi ataupun membeli bahan baku atau stok. PMI Manufaktur industri otomotif akan mengalami pelemahan," tutur Huda.
"Apa yang dilakukan Agrinas juga menyalahi aturan untuk penggunaan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) karena impornya CBU alias diimpor sudah jadi," imbuhnya.
Agrinas menyepakati kontrak mencakup pengadaan total 105.000 unit kendaraan dari dua produsen otomotif asal India. Detailnya, ada sebanyak 35.000 unit Scorpio Pik Up dipasok oleh Mahindra & Mahindra, dan 70.000 unit lainnya berasal dari Tata Motors, terdiri atas 35.000 unit Yodha Pick-Up dan 35.000 unit Ultra T.7 Light Truck.
Sementara itu, Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara Joao Angelo De Sousa Mota mengungkapkan alasan impor 105.000 unit pikap 4x4 dan kendaraan niaga asal India senilai Rp24,66 triliun. Hal ini dilatarbelakangi faktor harga, kualitas dan ketersediaan produk serupa di dalam negeri.
Dari sisi harga, kendaraan impor asal India dinilai lebih kompetitif dibandingkan harga yang dipatok pabrikan lain. Seturut itu, produk yang lebih murah diklaim memiliki kualitas setara.
"Kami memesan dengan harga yang sangat kompetitif atau hampir 50 persen lebih murah dari kompetitornya. Dari sisi durability, power, dan fuel consumption, kendaraan ini sangat andal dan sangat bagus," kata Joao dalam keterangannya.
Masih soal harga, Joao mengatakan Agrinas mesti menyiasati ketersediaan dana dari program Koperasi Desa Merah Putih yang memiliki keterbatasan. Pembelian kendaraan impor dari India ini dianggap sesuai dengan kemampuan finansial program unggulan Presiden Prabowo Subianto, yang digadang-gadang menjadi ceruk baru ekonomi lokal ini.
"Kalau saya tidak pintar-pintar cari harga yang bagus, barang bagus, ya duitnya tidak cukup. Tapi dengan seperti ini (impor dari India), kan Indonesia dapet barang bagus, kualitas bagus, harganya sangat bagus sehingga kami bisa manfaatkan ini untuk kepentingan rakyat untuk memotong distribusi yang selama ini menjadi beban utama dari petani," urai Joao.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.