Kini, petani terorganisir dalam empat kelompok tani resmi yang dibentuk melalui Surat Keputusan Desa. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) berperan sebagai simpul pasar, memperkuat akses distribusi dan posisi tawar petani.
Inovasi lokal pun berkembang, termasuk pemanfaatan keong yang sebelumnya menjadi hama sebagai bahan baku pupuk organik cair.
Program Garitan Kalongliud juga menjangkau kelompok masyarakat rentan. Tercatat 869 penerima manfaat langsung dan 9.874 penerima manfaat tidak langsung.
Sebanyak 68 individu dari kelompok rentan termasuk buruh tani, lansia, anak-anak, keluarga pra-sejahtera, hingga mantan pelaku pertambangan tanpa izin dilibatkan secara aktif dalam sistem ekonomi desa. Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap program ini mencapai 90,82 persen.
Keberhasilan program tidak terlepas dari peran local hero. Sosok Kang Wahyu dikenal sebagai penggerak utama di tingkat desa, yang bersama masyarakat mendorong adopsi inovasi pertanian dan penguatan kolaborasi komunitas.
Rumah Belajar Garitan yang dibangun di desa tersebut kini berkembang sebagai pusat pembelajaran, telah dikunjungi lebih dari 696 pengunjung lokal dan nasional, serta menjadi model yang mulai direplikasi di desa lain.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.