“Produksi di bulan Januari sudah ada, di bulan Februari sudah ada, Maret sedang berproduksi, bahkan mungkin April nanti bisa panen raya. Nah, ini sebenarnya, di bulan April ini diprediksi sampai 5 juta ton. Ini juga sangat tinggi produksi yang akan dihasilkan,” lanjutnya.
Data Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026 juga menunjukkan total ketersediaan beras diperkirakan menembus lebih dari 47 juta ton, berasal dari akumulasi stok awal dan produksi tahunan. Sementara kebutuhan nasional diperkirakan sekitar 31 juta ton sepanjang tahun, sehingga menghasilkan surplus yang signifikan.
Komoditas lain juga menunjukkan kondisi neraca yang positif. Jagung diproyeksikan memiliki stok akhir di 2026 sekitar 4,99 juta ton. Pada komoditas protein hewani, daging ayam ras mencatat stok akhir sekitar 1,7 juta ton, sementara telur ayam ras sekitar 949 ribu ton. Adapun gula konsumsi diperkirakan memiliki stok akhir sekitar 1,33 juta ton.
Ketut menilai, kondisi ini mencerminkan kuatnya produksi dalam negeri yang menjadi penopang utama ketersediaan pangan nasional.
Dia menambahkan bahwa sebagian besar komoditas pangan strategis nasional memang ditopang oleh produksi domestik, sehingga memperkuat ketahanan pangan secara berkelanjutan.
“Komoditas seperti cabai, bawang merah, telur, ayam, itu produksi dalam negeri semua. Jadi kita sudah sangat-sangat sufficient, sangat kuat produksinya,” jelasnya.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.