Sementara itu, dua komponen lainnya masih berada di zona optimistis meskipun mengalami penurunan. Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) tercatat 107,8, turun dari 110,7 pada bulan sebelumnya. Adapun Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (Durable Goods/IPDG) berada di level 109,2, lebih rendah dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 112,0.
Kemudian, Bank Pembangunan Asia (ADB) memperkirakan pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang Asia dan Pasifik akan melambat menjadi 5,1 persen pada 2026 dan 2027. Kondisi itu terbebani oleh konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian perdagangan yang berkelanjutan. Lingkungan global menjadi penuh tantangan dan ketidakpastian.
ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia justru meningkat menjadi 5,2 persen pada 2026 dan 2027, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sebesar 5,1 persen. Kondisi berbeda bisa terjadi jika konflik di Timur Tengah berkepanjangan dan memburuk.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.110–Rp17.160 per dolar AS. Sedangkan dalam sepekan ke depan, rupiah diperdagangkan di rentang Rp17.040–Rp17.200 per dolar AS.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.