Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Industri Gim RI Jadi Kekuatan di Asia Tenggara

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Jum'at, 10 April 2026 |14:01 WIB
Industri Gim RI Jadi Kekuatan di Asia Tenggara
Industri Gim RI Jadi Kekuatan di Asia Tenggara (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA - Asia Tenggara menjadi pasar gim (gaming) yang semakin penting saat ini dengan sekitar 290 juta gamer pada 2025. Nilai pasar mencapai sekitar USD6,6 miliar, serta ekosistem gaming yang lebih luas dan diproyeksikan menembus USD14 miliar pada 2030.  Dalam lanskap ini, Indonesia muncul sebagai salah satu pasar gaming terbesar berbasis komunitas di Asia Tenggara.

"Gaming di Asia Tenggara masih kerap dipandang terlalu sempit, sekadar sebagai hiburan atau hanya sebagai salah satu kanal media digital,” ujar CEO dan Co-Founder Ampverse Charlie Baillie dalam keterangannya, Jakarta, Jumat (10/4/2026).

Dalam laporan Unlocking the Value of Gaming in Southeast Asia, Indonesia menunjukkan dengan jelas bahwa cara pandang seperti itu sudah tidak lagi relevan. Indonesia merupakan pasar gaming terbesar di Asia Tenggara dari sisi jumlah pemain, tetapi yang membuatnya semakin penting adalah betapa kuatnya peran kreator, komunitas, dan relevansi budaya dalam membentuk discovery dan adopsi. 

"Bagi brand dan publisher, peluang di Indonesia bukan hanya soal skala, tetapi juga soal memahami bagaimana pengaruh dibangun dan dipertahankan di pasar ini," katanya.

Laporan tersebut menegaskan bahwa gaming di Asia Tenggara kini bukan lagi sebuah industri yang niche, melainkan telah menjadi kekuatan besar dalam ekonomi konsumen dan media, dengan implikasi langsung terhadap cara perusahaan membangun relevansi, menjangkau audiens, dan mendorong pertumbuhan di kawasan Asia Tenggara.

Ampverse memperkirakan jumlah gamer di Asia Tenggara akan melampaui 330 juta pada 2030, memperkuat posisi kawasan ini sebagai salah satu pasar gaming terbesar dan paling dinamis di dunia. Bagi pelaku bisnis, sorotan utamanya bukan hanya pada besarnya pasar, tetapi juga pada pergeseran sumber nilai. 

Meski pendapatan industri gaming diproyeksikan naik dari USD6,6 miliar pada 2025 menjadi USD7,1 miliar pada 2028, laporan ini menilai bahwa peluang yang lebih besar justru berada pada ekosistem gaming yang lebih luas, mulai dari kreator, komunitas, format livestreaming, hingga keterlibatan berbasis iklan. Ekosistem yang lebih luas ini diperkirakan mencapai USD14 miliar pada 2030, menandakan bahwa dampak komersial gaming kini jauh melampaui belanja di dalam game semata.

 

Laporan ini juga menyoroti alasan mengapa banyak strategi regional masih belum efektif. Kategori mobile menyumbang sekitar 70% dari pendapatan gaming di Asia Tenggara, tetapi perilaku pengguna tidak hanya ditentukan oleh akses platform, melainkan juga oleh pengaruh kreator dan partisipasi komunitas. 

Lebih dari separuh gamer di kawasan ini secara rutin mengonsumsi konten gaming melalui livestream, YouTube, dan media sosial, sehingga kepercayaan, relevansi lokal, dan pemahaman budaya menjadi faktor yang semakin penting bagi brand maupun publisher.

Pihaknya juga melihat masih banyak perusahaan internasional yang belum sepenuhnya memahami karakter pasar ini. Strategi yang dibangun dengan acuan pasar Barat kerap tidak berjalan optimal di Asia Tenggara karena kurang memperhitungkan fragmentasi budaya, kompleksitas lokalisasi, serta rendahnya toleransi audiens terhadap kampanye yang terasa tidak autentik. 

Menurut laporan ini, brand perlu melihat gaming lebih dari sekadar ruang untuk beriklan, sementara publisher juga perlu berpikir lebih jauh dari sekadar taktik peluncuran dan penerjemahan bahasa. Keberhasilan jangka panjang semakin ditentukan oleh kemampuan untuk masuk melalui kreator dan komunitas yang dipercaya, serta membangun relevansi yang spesifik di tiap pasar sejak awal.

Pesan ini menjadi sangat relevan bagi Indonesia, yang dalam laporan disebut sebagai pasar gaming terbesar di Asia Tenggara dari sisi jumlah pemain dan instalasi. Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan basis gamer lebih dari 150 juta orang, Indonesia merupakan peluang audiens terbesar di kawasan, di saat discovery, adopsi, dan engagement semakin banyak dibentuk oleh kreator dan komunitas lokal.

“Indonesia memegang peran sentral dalam setiap strategi gaming Asia Tenggara yang serius, karena memadukan skala, pengaruh budaya, dan komunitas yang sangat terhubung,” tambah Charlie. 
 

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement