Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

ADB Proyeksi Ekonomi RI Tumbuh 5,2 Persen pada 2026, Tetap Stabil di Tengah Dinamika Global

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Senin, 13 April 2026 |15:23 WIB
ADB Proyeksi Ekonomi RI Tumbuh 5,2 Persen pada 2026, Tetap Stabil di Tengah Dinamika Global
ADB Proyeksi Ekonomi RI Tumbuh 5,2 Persen pada 2026, Tetap Stabil di Tengah Dinamika Global (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA - Asian Development Bank (ADB) memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh stabil 5,2 persen pada 2026 dan 2027. Demikian diungkapkan dalam laporan Asian Development Outlook April 2026: The Middle East Conflict Challenges Resilience in Asia and The Pacific.

Di tengah memanasnya konflik Timur Tengah, ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, tetap stabil. Kuatnya permintaan domestik dan belanja infrastruktur menjadi penopang utama stabilitas ekonomi di kawasan Asia Tenggara.

"Asia Tenggara diperkirakan mempertahankan pertumbuhan relatif stabil, didukung permintaan domestik dan belanja infrastruktur, meskipun pelemahan perdagangan global dan berkurangnya efek percepatan ekspor akan menekan beberapa ekonomi," demikian keterangan laporan Asian Development Outlook April 2026, dikutip pada Senin (13/4/2026).

ADB juga menyebut bahwa konflik yang tengah terjadi di Timur Tengah membuat pertumbuhan ekonomi di Asia melambat. Gangguan pasokan energi hingga pupuk akibat konflik juga mendorong inflasi.

"Dampak konflik 2026 terhadap Asia dan Pasifik tidak hanya melalui kenaikan harga energi. Negara-negara di Timur Tengah merupakan pemasok utama pupuk dan input terkait, termasuk urea dan amonia, yang sebagian besar melewati Selat Hormuz, jalur laut penting bagi ekspor komoditas. Hal ini meningkatkan biaya produksi pertanian dan dapat berdampak pada harga pangan," ungkap laporan ADB. 

 

ADB memperkirakan tingkat inflasi di Indonesia sebesar 2,5 persen pada 2026 dan 2027 mendatang.

Laporan ADB dibuat dengan asumsi konflik di Timur Tengah dapat berakhir pada April. Jika konflik berlangsung panjang hingga kuartal ketiga 2026, pertumbuhan ekonomi di Asia Pasifik semakin tertekan. Inflasi juga semakin meningkat.

"Pertumbuhan kawasan akan lebih rendah 1,3 poin persentase selama 2026–2027 dibandingkan skenario stabilisasi dini, sementara inflasi akan lebih tinggi 3,2 poin persentase. Gangguan rantai pasok dan memburuknya kondisi keuangan secara tajam dapat semakin memperbesar dampak tersebut," tutupnya.

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement