Amran menambahkan, beras masih menjadi komoditas utama dengan porsi konsumsi terbesar, yakni 45,2 persen atau sekitar 31,1 juta ton dari total kebutuhan. Oleh karena itu, pemerintah terus memperkuat ketersediaan beras nasional, salah satunya melalui peningkatan Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
Stok beras nasional yang dikelola Perum Bulog tercatat telah melampaui 5 juta ton per 23 April 2026. Angka ini melonjak 264,2 persen dibandingkan dua tahun sebelumnya yang hanya 1,37 juta ton, serta naik 65,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 3,01 juta ton.
Selain itu, serapan beras dari produksi dalam negeri juga meningkat signifikan. Hingga April 2026, realisasi serapan mencapai 2,31 juta ton, melonjak drastis dibandingkan periode yang sama tahun 2024 sebesar 259,9 ribu ton, dan naik 29,4 persen dari capaian 2025 sebesar 1,78 juta ton.
Menurut Amran, swasembada pangan kerap diidentikkan dengan beras karena perannya yang dominan dalam pola konsumsi masyarakat Indonesia.
"Kenapa orang mengatakan swasembada pangan identik dengan beras? Karena komposisi kalau kita makan, orang Indonesia bisa 60, 70, 80 persen, sehingga orang selalu menyampaikan pangan identik dengan beras, karena komposisinya yang lebih besar," ungkap Amran.
"Intinya di bawah kepemimpinan Bapak Presiden Prabowo saat ini, satu, pangan beres. Dua, protein beres. Jadi yang dibutuhkan tubuh kita ini adalah karbohidrat dan protein, sudah terpenuhi," pungkasnya.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.