Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ini Bukti RI Swasembada Pangan, Impor Hanya 5 Persen dari 11 Komoditas

Tangguh Yudha , Jurnalis-Minggu, 26 April 2026 |13:02 WIB
 Ini Bukti RI Swasembada Pangan, Impor Hanya 5 Persen dari 11 Komoditas
Ini Bukti RI Swasembada Pangan, Impor Hanya 5 Persen dari 11 Komoditas (Foto: Kementan)
A
A
A

JAKARTA - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan Indonesia mencapai swasembada pangan. Hal ini ditunjukkan dari produksi 11 komoditas pangan utama yang disebut telah melampaui kebutuhan konsumsi nasional.

Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan, indikator swasembada mengacu pada batas impor maksimal 10 persen sebagaimana konsensus Food and Agriculture Organization (FAO). Sementara itu, impor pangan strategis Indonesia saat ini hanya berada di kisaran 5 persen.

"Apa itu swasembada pangan? Ini 11 komoditas, yang merah ini (impor), kurang lebih 3,5 juta ton. Total produksi kita 73 juta ton. Kalau 3,5 juta ton dibagi (73 juta ton), itu 4,8 persen. (Lalu) kalau (impor) ini dibagi dengan kebutuhan (68 juta ton), itu 5 persen lebih sedikit. Definisi yang kita sepakati, swasembada pangan adalah maksimal impor 10 persen, ini konsensus FAO, dan kita 5 persen," papar Amran, dikutip Minggu (26/4/2026).

Dia merinci, total impor 3 komoditas pangan strategis mencapai 3,5 juta ton, yang terdiri dari kedelai sebesar 2,6 juta ton, bawang putih 600 ribu ton, serta daging ruminansia 350 ribu ton. Sementara kebutuhan konsumsi nasional untuk 11 komoditas pangan mencapai 68,7 juta ton per tahun, dengan total produksi mencapai 73,7 juta ton.

Adapun 11 komoditas tersebut meliputi beras, jagung pakan, cabai rawit, cabai besar, daging ayam, telur ayam, bawang merah, gula konsumsi, kedelai, bawang putih, serta daging sapi atau kerbau.

"Jadi swasembada pangan, ketahanan pangan, kemandirian pangan dalam waktu yang bersamaan, hari ini selesai. Pangan sesuai dengan Peraturan Presiden nomor 125 tahun 2022, itu ada 11 komoditas, dengan beras sebagai porsi konsumsi paling tinggi," jelasnya.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement