"Dalam menghadapi dinamika suku bunga tersebut, BRI tetap fokus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas secara berkelanjutan. Perseroan juga terus memperkuat struktur pendanaan melalui peningkatan dana murah (CASA) lewat penguatan ekosistem transaction banking guna menjaga efisiensi biaya dana secara berkelanjutan," ungkap Dhanny.
Dari sisi fungsi penyaluran pembiayaan atau intermediasi, BRI memastikan tidak akan mengerem penyaluran kredit secara drastis. Perseroan akan menerapkan strategi pertumbuhan yang selektif (selective growth) dengan menyasar sektor-sektor yang dinilai memiliki tingkat pemulihan dan daya tahan tinggi terhadap guncangan makro.
Langkah ini diambil guna memastikan bahwa risiko kredit macet (Non-Performing Loan/NPL) dapat dimitigasi sejak dini, tanpa kehilangan momentum dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat bawah.
"Di sisi lain, BRI memastikan fungsi intermediasi berjalan dengan selective growth serta tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, khususnya dalam penyaluran kredit kepada segmen UMKM dan sektor produktif yang menjadi fokus utama perseroan," pungkas Dhanny.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menyatakan kesiapannya dalam menghadapi bauran kebijakan moneter terbaru yang diputuskan oleh Bank Indonesia (BI) dengan menaikkan suku bunga acuan ke 5,25 persen. Industri perbankan nasional, termasuk bank pelat merah pembawa mandat pembiayaan perumahan ini, menegaskan telah memitigasi berbagai skenario pengetatan likuiditas guna menjaga stabilitas bisnis.
Corporate Secretary BTN, Ramon Armando, menjelaskan bahwa perbankan secara umum telah mengantisipasi fluktuasi suku bunga melalui pengelolaan tata kelola risiko yang matang serta simulasi ketahanan keuangan makro. Langkah ini krusial untuk mengukur dampak rembesan kenaikan bunga acuan terhadap lonjakan beban bunga operasional.
"Perbankan pada dasarnya telah siap menghadapi berbagai skenario kebijakan moneter, termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga acuan. Masing-masing bank telah memiliki manajemen risiko yang memadai serta melakukan stress test secara berkala dengan mempertimbangkan potensi kenaikan BI Rate yang dapat berdampak pada peningkatan biaya dana (cost of fund)," ujar Ramon saat dikonfirmasi, Rabu (20/5/2026).