Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Suku Bunga BI Naik Jadi 5,25 Persen, Begini Respons BRI dan BTN

Anggie Ariesta , Jurnalis-Rabu, 20 Mei 2026 |19:22 WIB
Suku Bunga BI Naik Jadi 5,25 Persen, Begini Respons BRI dan BTN
Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen. (Foto: Okezone.com/Freepik)
A
A
A

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen. Keputusan ini pun direspons bank-bank BUMN seperti BRI hingga BTN.

Respons Bank BRI

Corporate Secretary BRI, Dhanny, mengungkapkan bahwa kebijakan pengetatan moneter yang diambil bank sentral merupakan jangkar krusial untuk memitigasi rambatan risiko global, terutama dalam menjaga kestabilan nilai tukar rupiah dari volatilitas eksternal.

"Kami memandang kebijakan tersebut merupakan bagian dari langkah pre-emptive dan forward looking Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta menjaga daya tahan perekonomian nasional di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian," ujar Dhanny saat dikonfirmasi, Rabu (20/5/2026).

Meskipun iklim suku bunga tinggi berpotensi mengerek biaya dana perbankan (cost of fund), BRI optimistis daya tahan ekonomi nasional secara agregat masih berada dalam kondisi yang kokoh.

"Perseroan meyakini fundamental ekonomi domestik masih tetap resilien, didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang terjaga, inflasi yang relatif terkendali, serta aktivitas konsumsi yang masih menunjukkan tren positif," jelasnya.

Menyikapi era suku bunga tinggi ini, Dhanny memastikan manajemen BRI telah menyiapkan arsitektur strategi untuk mengawal kinerja neraca keuangan agar tetap tumbuh secara sehat dan berkesinambungan. Fokus perseroan adalah menjaga efisiensi pada pos liabilitas melalui penguatan struktur dana murah (Current Account Saving Account/CASA).

Untuk mengunci pertumbuhan dana murah tersebut, BRI akan memaksimalkan penetrasi layanan perbankan transaksional (transaction banking) serta optimalisasi ekosistem digital untuk menjaring simpanan giro dan tabungan masyarakat secara berkelanjutan.

"Dalam menghadapi dinamika suku bunga tersebut, BRI tetap fokus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas secara berkelanjutan. Perseroan juga terus memperkuat struktur pendanaan melalui peningkatan dana murah (CASA) lewat penguatan ekosistem transaction banking guna menjaga efisiensi biaya dana secara berkelanjutan," ungkap Dhanny.

Dari sisi fungsi penyaluran pembiayaan atau intermediasi, BRI memastikan tidak akan mengerem penyaluran kredit secara drastis. Perseroan akan menerapkan strategi pertumbuhan yang selektif (selective growth) dengan menyasar sektor-sektor yang dinilai memiliki tingkat pemulihan dan daya tahan tinggi terhadap guncangan makro.

Langkah ini diambil guna memastikan bahwa risiko kredit macet (Non-Performing Loan/NPL) dapat dimitigasi sejak dini, tanpa kehilangan momentum dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat bawah.

"Di sisi lain, BRI memastikan fungsi intermediasi berjalan dengan selective growth serta tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, khususnya dalam penyaluran kredit kepada segmen UMKM dan sektor produktif yang menjadi fokus utama perseroan," pungkas Dhanny.

Respons Bank BTN

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menyatakan kesiapannya dalam menghadapi bauran kebijakan moneter terbaru yang diputuskan oleh Bank Indonesia (BI) dengan menaikkan suku bunga acuan ke 5,25 persen. Industri perbankan nasional, termasuk bank pelat merah pembawa mandat pembiayaan perumahan ini, menegaskan telah memitigasi berbagai skenario pengetatan likuiditas guna menjaga stabilitas bisnis.

Corporate Secretary BTN, Ramon Armando, menjelaskan bahwa perbankan secara umum telah mengantisipasi fluktuasi suku bunga melalui pengelolaan tata kelola risiko yang matang serta simulasi ketahanan keuangan makro. Langkah ini krusial untuk mengukur dampak rembesan kenaikan bunga acuan terhadap lonjakan beban bunga operasional.

"Perbankan pada dasarnya telah siap menghadapi berbagai skenario kebijakan moneter, termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga acuan. Masing-masing bank telah memiliki manajemen risiko yang memadai serta melakukan stress test secara berkala dengan mempertimbangkan potensi kenaikan BI Rate yang dapat berdampak pada peningkatan biaya dana (cost of fund)," ujar Ramon saat dikonfirmasi, Rabu (20/5/2026).

Menurut Ramon, guna mengantisipasi pembengkakan biaya dana akibat tren suku bunga tinggi (higher for longer) ini, BTN langsung tancap gas mengamankan struktur neraca keuangan. Manajemen akan memprioritaskan penghimpunan dana murah untuk menjaga margin bunga bersih tetap sehat.

"Untuk mengurangi sensitivitas terhadap tekanan nilai tukar dan biaya pendanaan, BTN juga terus menjaga struktur pendanaan agar tetap efisien melalui penguatan dana murah (CASA) sebagai fokus utama strategi funding perseroan," tegas Ramon.

Perlu diketahui, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19–20 Mei 2026 secara mengejutkan memutuskan untuk mengerek BI-Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen. Kebijakan serupa juga diterapkan pada suku bunga Deposit Facility yang naik menjadi 4,25 persen dan Lending Facility ke level 6,00 persen.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa pengetatan moneter ini bersifat antisipatif (pre-emptive) untuk membentengi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak pasar keuangan global akibat eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah.

BI menyatakan fokus moneter saat ini bergeser sepenuhnya pada aspek stabilitas (pro-stability) demi menjaga jangkar inflasi nasional pada rentang 2,5±1 persen untuk periode 2026 dan 2027, sekaligus memastikan ketahanan eksternal makroekonomi domestik tetap solid.

Komitmen BTN untuk menggenjot rasio CASA sangat beralasan apabila menilik pencapaian rapor keuangan korporasi. Per kuartal I 2026, CASA BTN tercatat naik 7,9 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp212,11 triliun atau menempati porsi 50,2 persen dari total dana pihak ketiga (DPK).

Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, bank yang fokus pada KPR ini berhasil menjaga pertumbuhan kredit dan pembiayaan yang stabil, ditopang oleh segmen perumahan subsidi maupun nonsubsidi.

BTN mencatatkan penyaluran kredit senilai total Rp400,63 triliun atau naik 10,3 persen yoy dari Rp363,11 triliun pada kuartal I 2025.

Dari total penyaluran kredit tersebut, di segmen KPR Subsidi, BTN merekam penyaluran kredit senilai Rp193,55 triliun per kuartal I 2026 atau naik 7,7 persen yoy dari Rp179,70 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, untuk segmen KPR Non-Subsidi, posisi kredit telah mencapai Rp112,56 triliun per kuartal I 2026 atau naik 5,4 persen yoy dari Rp106,81 triliun.

Meskipun likuiditas di pasar mengetat, posisi rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) BTN pada kuartal pertama terpantau berada di level yang sangat aman dan jauh di atas ambang batas ketentuan regulator.

Bantalan permodalan yang tebal tersebut, ditambah dengan hasil uji ketahanan (stress test) internal yang dilakukan secara berkala, diyakini akan membuat BTN tetap lincah mengalirkan pembiayaan ke sektor riil sekaligus mempertahankan tren pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan hingga akhir tahun.

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement