JAKARTA - CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan Roeslani, menilai dibentuknya PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) bertujuan untuk meningkatkan devisa negara yang selama ini potensinya hilang akibat praktik under-invoicing oleh eksportir.
Selama ini, lanjut Rosan, sejumlah eksportir kerap menjual komoditas di bawah harga pasar atau lebih murah. Hal tersebut membuat pelaporan pembayaran pajak perusahaan ke negara menjadi kurang optimal. Selain itu, devisa hasil ekspor juga kerap diendapkan di rekening luar negeri dan tidak dibawa ke dalam negeri.
“Ini inline dengan prinsip OECD, di mana kita ingin menjunjung tinggi governance, transparency, dan accountability dari semua ini sehingga tidak terjadi lagi potensi-potensi adanya uang gelap. Istilah saya, uang gelap,” ujarnya dalam konferensi pers di Gedung DPR RI, Rabu (20/5/2026).
Rosan menjelaskan PT DSI akan beroperasi dalam dua fase. Fase pertama mulai 1 Juni hingga 31 Desember, PT DSI hanya akan melakukan pemeriksaan invoice jual beli hingga menjadi perantara pembeli (market ekspor) dan penjual (perusahaan dalam negeri).
Setelah itu, mulai Januari 2027 memasuki fase kedua, PT DSI akan ditugaskan untuk melakukan pembelian komoditas dan menjualnya ke pasar global. Dengan demikian, diharapkan tidak ada lagi praktik under-invoicing dari perusahaan karena penjualan dilakukan terlebih dahulu ke PT DSI sebelum diekspor.
“Ini yang kita coba untuk reduce semaksimal mungkin. Zero under-invoicing, zero transfer pricing,” kata Rosan.
Dalam kesempatan berbeda, Chief Investment Officer Pandu Patria Sjahrir mengatakan pembentukan DSI merupakan penugasan langsung dari Presiden untuk memperkuat tata kelola ekspor nasional.
“Danantara Indonesia ditunjuk oleh Bapak Presiden untuk memperkuat sistem perdagangan ekspor-impor dengan mendirikan PT Danantara Sumber Daya Indonesia atau disingkat DSI, yang akan beroperasi efektif per 1 Juni 2026,” ujar Pandu dalam konferensi pers di Wisma Danantara, Rabu (20/5/2026).
Pandu menjelaskan DSI nantinya akan menjalankan sejumlah fungsi utama, mulai dari memperkuat transparansi dan sistem pelaporan perdagangan komoditas strategis, hingga memastikan seluruh transaksi berjalan akuntabel dan sesuai harga pasar. Tiga komoditas yang akan dikelola PT DSI adalah batu bara, CPO, dan ferro alloy.
Selain itu, DSI juga akan berperan dalam mendukung pengelolaan devisa negara secara lebih optimal. Sebab, selama ini devisa hasil ekspor dinilai belum optimal mendukung perekonomian nasional karena banyak dana tersebut justru ditempatkan di luar negeri.
Pandu menambahkan, perusahaan tersebut juga akan melakukan konsolidasi data dan tata kelola ekspor guna meningkatkan efisiensi sektor perdagangan dan pengelolaan sumber daya alam.
“Bersama-sama kita akan melakukan ini secara baik. Ini adalah one platform, multiple benefit. Yang kita inginkan, kalau dunia senang, Indonesia harus lebih senang lagi,” kata Pandu.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.