Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

9 Fakta PHK Massal, Terbaru 350 Pekerja Xacti Indonesia Terdampak dan 9.000 Buruh Terancam

Feby Novalius , Jurnalis-Minggu, 31 Mei 2026 |05:14 WIB
9 Fakta PHK Massal, Terbaru 350 Pekerja Xacti Indonesia Terdampak dan 9.000 Buruh Terancam
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) menghantam berbagai sektor industri di Indonesia. (Foto: Okezone.com/Freepik)
A
A
A

JAKARTA – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) menghantam berbagai sektor industri di Indonesia. Terbaru, PT Xacti Indonesia di Depok, Jawa Barat, menutup operasionalnya dan melakukan PHK terhadap 350 pekerja. 

Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menilai fenomena ini menjadi sinyal melemahnya industri nasional akibat tekanan ekonomi global, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga kenaikan biaya produksi yang berpotensi memicu PHK lebih luas dalam beberapa bulan ke depan.

Berikut Okezone rangkum fakta-fakta gelombang PHK yang perlu menjadi sorotan, Minggu (31/5/2026): 

1. Xacti Indonesia Tutup, 350 Pekerja Terkena PHK

Kasus terbaru terjadi di PT Xacti Indonesia yang sebelumnya dikenal sebagai PT Sanyo Indonesia. Perusahaan elektronik yang beroperasi di Depok, Jawa Barat, tersebut menghentikan seluruh kegiatan operasional dan melakukan PHK terhadap sekitar 350 pekerja.

Presiden KSPI sekaligus Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, menyebut perusahaan tidak lagi mampu bersaing di tengah tekanan industri dan melemahnya pasar ekspor.

Meski demikian, proses advokasi terhadap pekerja telah menghasilkan kesepakatan. Para pekerja disebut menerima kompensasi berupa pesangon sebesar dua kali ketentuan undang-undang, termasuk uang penghargaan masa kerja dan penggantian hak.

2. Gelombang PHK Menjalar ke Berbagai Daerah

PHK tidak hanya terjadi di Depok. KSPI mencatat gelombang pengurangan tenaga kerja telah menyebar ke sejumlah daerah dan sektor industri.

Di Karawang, Jawa Barat, sebanyak 1.323 pekerja terdampak PHK dengan berbagai alasan, mulai dari penutupan perusahaan, efisiensi operasional, hingga persoalan manajemen.

Sementara di Banten, sektor tekstil, alas kaki, dan manufaktur juga mulai tertekan. Beberapa perusahaan yang dilaporkan melakukan PHK antara lain PT Nikomas Gemilang, PT Parkland World Indonesia (PWI), PT Sinhwa Bis, dan PT Lung Cheong.

3. Industri Sepatu dan Tekstil Jadi yang Paling Terpukul

KSPI mencatat sektor padat karya menjadi salah satu yang paling rentan terkena dampak perlambatan ekonomi.

Pada Mei 2026, PT Nikomas Gemilang dilaporkan melakukan PHK terhadap 279 pekerja. Sementara PT Parkland World Indonesia 2 melakukan PHK terhadap 223 pekerja dan PT Sinhwa Bis terhadap 176 pekerja.

Kondisi tersebut menunjukkan tekanan mulai dirasakan industri yang selama ini menjadi penyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

4. Pelemahan Rupiah dan Konflik Global Jadi Pemicu

KSPI menilai terdapat dua hingga tiga faktor utama yang mendorong meningkatnya PHK.

Pertama, konflik geopolitik global yang berdampak pada kenaikan harga energi dan bahan bakar industri. Kedua, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang membuat biaya impor bahan baku meningkat. Ketiga, melemahnya permintaan pasar global yang menekan kinerja ekspor perusahaan nasional.

Akibatnya, banyak perusahaan menghadapi kenaikan biaya produksi sehingga memilih melakukan efisiensi, termasuk melalui pengurangan tenaga kerja.

5. Sektor Otomotif Terdampak

Tekanan juga mulai dirasakan industri otomotif yang bergantung pada komponen dan bahan baku impor.

Di Sidoarjo, Jawa Timur, perusahaan showroom dan bengkel kendaraan CV Asri dilaporkan melakukan PHK terhadap sekitar 200 pekerja. Penurunan permintaan kendaraan disebut menjadi salah satu faktor utama setelah harga mobil meningkat akibat pelemahan rupiah.

Kondisi ini menunjukkan dampak perlambatan ekonomi tidak hanya terjadi di sektor ekspor, tetapi juga mulai memengaruhi pasar domestik.

6. Potensi 9.000 Buruh Kembali Kehilangan Pekerjaan

KSPI memperkirakan gelombang PHK belum berakhir. Dalam tiga bulan ke depan, sekitar 9.000 pekerja di sedikitnya 10 perusahaan berpotensi terdampak PHK apabila kondisi ekonomi tidak membaik.

Ancaman tersebut disebut berkaitan dengan terus meningkatnya biaya produksi akibat kenaikan harga BBM industri dan mahalnya bahan baku impor.

Menurut KSPI, gelombang PHK yang saat ini terjadi bukan lagi sebatas prediksi, melainkan sudah menjadi kenyataan di berbagai daerah.

7. Data PHK Nasional Terus Meningkat

Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sebanyak 15.425 pekerja terkena PHK sepanjang Januari hingga April 2026.

Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan periode Januari-Maret 2026 yang tercatat sebanyak 8.389 pekerja. Data itu menjadi indikator bahwa tekanan terhadap sektor ketenagakerjaan masih berlangsung di tengah ketidakpastian ekonomi global.

8. Buruh Minta Pemerintah Bertindak Cepat

KSPI dan Partai Buruh meminta pemerintah segera mengambil langkah antisipatif untuk mencegah PHK massal yang lebih luas.

Selain mendorong optimalisasi Satgas Mitigasi PHK, organisasi buruh juga berencana berkoordinasi dengan DPR guna memperkuat pengawasan terhadap kondisi industri dan memastikan hak-hak pekerja yang terkena PHK terpenuhi.

Menurut Said Iqbal, pemerintah juga perlu menyiapkan skema penyaluran kembali tenaga kerja ke sektor-sektor yang masih berkembang agar pekerja yang kehilangan pekerjaan dapat kembali terserap ke dunia industri.

9. Posko Khusus Dibuka untuk Buruh Korban PHK

Sebagai langkah pendampingan, KSPI telah membuka Posko Orange untuk membantu pekerja yang terkena PHK.

Posko tersebut berfungsi memberikan pendampingan hukum, memastikan pembayaran hak-hak pekerja, sekaligus menghubungkan buruh terdampak dengan peluang kerja baru melalui Satgas Mitigasi PHK maupun sektor industri yang masih membutuhkan tenaga kerja.

Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah gelombang PHK berujung pada meningkatnya angka pengangguran dan kemiskinan di kalangan pekerja formal.

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement