JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) makin anjlok. Pada perdagangan pagi ini, Rupiah melemah menembus level Rp17.900 per dolar AS.
Melansir Bloomberg, Jakarta, Rabu (3/6/2026), Rupiah melemah 70 poin ke level Rp17.909 per dolar AS.
Sebelumnya, pendiri dan CEO Astronacci International, Gema Goeyardi mengungkapkan bahwa pelemahan Rupiah saat ini murni disebabkan oleh faktor internal dan sentimen ketidakpercayaan pasar.
Berdasarkan data grafik DXY yang hanya berputar di kisaran 92 hingga 97, terlihat jelas bahwa mata uang negara-negara besar seperti Euro dan Swiss Franc justru menguat terhadap dolar, sementara mata uang regional seperti Baht Thailand dan Dolar Singapura cenderung stabil.
Gejolak nilai tukar rupiah belakangan ini memicu perdebatan mengenai apakah faktor global atau domestik yang menjadi biang kerok utama. Analisisnya menunjukkan bahwa indeks dolar AS sebenarnya tidak bergerak signifikan, namun rupiah tetap tersungkur dibandingkan mata uang tetangga.
“Yang namanya mata uang, itu sudah pasti supply-demand. Kok bisa US Dollarnya tidak menguat tapi Indonesia melemah? Saya intip Singapura Dollar, ternyata kita hancur juga terhadap Singapura Dollar sudah di level 14.000,” ujar Gema dalam siaran langsung acara Rakyat Bersuara iNews TV di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Menurut Gema, keterpurukan ini dipicu oleh aksi jual massal (sell-off) rupiah oleh pelaku pasar yang memindahkan dananya ke luar negeri, terutama Singapura. Alasan di balik pelarian modal ini beragam, mulai dari kebutuhan haji, pembayaran utang jatuh tempo, hingga sentimen negatif terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap berisiko tinggi bagi investor.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.