Sementara itu, Vice Chair for International Affairs Kadin Indonesia, Bernardino Vega, menilai bahwa standar keberlanjutan kini semakin memengaruhi keputusan investasi dan akses pasar bagi industri mineral global.
“Semakin banyak dana investasi yang menerapkan kriteria ESG sehingga kepatuhan terhadap standar keberlanjutan menjadi salah satu prasyarat utama dalam pengambilan keputusan investasi. Respons pasar terhadap hal ini terlihat jelas.
Investasi di sektor pengolahan mineral Indonesia meningkat 208 persen antara 2019 hingga 2022, dari US$3,56 miliar menjadi US$10,96 miliar. Peran Kadin Indonesia adalah memastikan pelaku usaha nasional memahami dengan jelas standar dan ekspektasi yang terus berkembang tersebut, serta membantu mereka beradaptasi lebih awal. Pada akhirnya, perusahaan yang mampu menunjukkan praktik pertambangan yang baik serta kinerja ESG yang kredibel dan dapat diverifikasi adalah perusahaan yang akan memperoleh investasi jangka panjang dan akses yang lebih strategis ke pasar global.”
Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, menyampaikan bahwa pada tahun lalu ekonomi Maluku Utara tumbuh sekitar 34 persen secara tahunan. Sementara itu, pada kuartal I 2026 pertumbuhan ekonomi daerah tersebut mencapai 19,64 persen, tertinggi di Indonesia. Sebagian besar pertumbuhan tersebut ditopang oleh industri hilirisasi, khususnya sektor nikel.
"Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa hilirisasi telah menciptakan nilai tambah yang nyata bagi daerah," ujarnya.