Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dinamika Participating Interest 10 Persen Migas, dari Dividen BUMD hingga Izin di Daerah

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Senin, 08 Juni 2026 |15:49 WIB
Dinamika Participating Interest 10 Persen Migas, dari Dividen BUMD hingga Izin di Daerah
Migas (Foto: Okezone)
A
A
A

Akibatnya, ketika produksi dimulai, daerah sering merasa memiliki 10 persen hak partisipasi tetapi belum menerima keuntungan signifikan. Padahal, pendapatan itu masih digunakan untuk mengembalikan biaya investasi yang sebelumnya digendong investor.  

“Sering muncul persepsi daerah punya 10 persen, tapi tidak menerima apa-apa. Padahal itu karena mekanisme pengembalian investasi,” kata Didik.

Menurut Didik, kondisi ini kerap memicu ketegangan antara pemerintah daerah dan investor. Banyak pihak salah memahami bahwa belum adanya realisasi bagi hasil berarti proyek tidak memberi manfaat bagi daerah. Padahal, secara bisnis, proyek migas memang harus melewati fase balik modal terlebih dahulu sebelum menghasilkan keuntungan bersih.  

Persoalan lain yang mulai mencuat adalah isu transparansi pengelolaan dana PI oleh BUMD. Masuknya dana dalam jumlah besar ke daerah membuka pertanyaan publik mengenai arah investasi, model bisnis, hingga distribusi keuntungan.  

Jika tata kelola tidak dibenahi, sorotan publik bukan lagi tertuju kepada KKKS, melainkan kepada pengelolaan internal BUMD sendiri.  

Didik menilai banyak BUMD masih belum siap mengelola bisnis migas secara profesional. Pemahaman mengenai manajemen arus kas, pengelolaan risiko, hingga strategi investasi masih minim.  

“Banyak yang masih berpikir dapat uang lalu dibagi. Padahal sebagian harus ditahan untuk investasi dan pengembangan bisnis,” ujarnya.  

Padahal, jika dikelola dengan baik, PI 10 persen bisa menjadi pintu masuk bagi daerah untuk membangun ekosistem bisnis energi yang lebih luas. BUMD dinilai dapat mengembangkan anak usaha hingga masuk ke rantai pasok jasa penunjang migas.  

Pandangan serupa disampaikan mantan Deputi Eksplorasi dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas Benny Lubiantara. Ia menilai PI 10 persen tetap penting karena mampu membangun rasa memiliki daerah terhadap proyek migas di wilayahnya sendiri.  

Namun, Benny mengakui harapan investor agar daerah ikut menjaga kelancaran proyek belum sepenuhnya terwujud. Hambatan sosial, regulasi daerah, hingga konflik kepentingan masih sering muncul meski daerah sudah memiliki PI.  

Dalam industri migas, keterlambatan proyek akibat persoalan non-teknis dapat berdampak langsung terhadap keekonomian investasi. Investor yang sudah menanggung modal daerah melalui skema carry pun berharap mendapat dukungan penuh agar operasi berjalan lancar.  “Investor merasa sudah meng-carry daerah, tapi daerah tidak membantu proyek. Bahkan kadang justru menambah masalah,” kata Benny.  

Benny menegaskan, akar persoalan PI 10 persen tetap kembali pada kualitas sumber daya manusia dan kapasitas bisnis BUMD. Menurut dia, BUMD tidak bisa hanya menjadi mitra pasif yang menunggu realisasi bagi hasil setiap akhir tahun.  

“BUMD harus naik kelas. Harus memahami operasi, biaya, risiko, dan mekanisme bisnis migas,” ujarnya. 

Ia bahkan menyarankan BUMD merekrut tenaga profesional atau pensiunan industri migas agar memiliki kemampuan teknis dan bisnis yang memadai.  

Meski demikian, membangun kompetensi bisnis di daerah bukan perkara mudah. Banyak daerah hanya memiliki satu wilayah kerja migas dengan umur produksi terbatas. Ketika lapangan selesai beroperasi, proses pembelajaran juga ikut berhenti.  

Jika tata kelola dan pemahaman bisnis tidak segera diperbaiki, PI 10 persen dikhawatirkan hanya akan menjadi arena perebutan keuntungan jangka pendek. Padahal, skema ini sejak awal dirancang sebagai instrumen untuk mendorong kemandirian ekonomi daerah penghasil migas.

(Taufik Fajar)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement