Untuk menghadapi kondisi tersebut, para pengusaha warteg berupaya melakukan berbagai penyesuaian agar harga makanan tetap terjangkau tanpa kehilangan pelanggan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melakukan efisiensi pada porsi lauk dan mencari bahan baku dengan harga yang lebih kompetitif.
"Untuk menyiasati porsi dan harga agar tetap stabil tanpa mengusir pelanggan, para pengusaha warteg biasanya terpaksa memutar otak, mulai dari memperkecil sedikit ukuran potongan lauk seperti tahu, tempe, atau ayam," ujar Mukroni.
Selain itu, pengusaha warteg juga memanfaatkan jaringan koperasi untuk melakukan pembelian bahan baku dalam jumlah besar guna memperoleh harga grosir yang lebih murah.
Mukroni berharap pemerintah melalui Perum Bulog dan instansi terkait dapat menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan agar tidak mengalami kenaikan berlebihan akibat sentimen kenaikan BBM.
Ia juga meminta pemerintah memberikan stimulus bagi pelaku usaha kuliner mikro, seperti kemudahan akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan program digitalisasi rantai pasok.