JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 10 poin atau sekitar 0,06 persen ke level Rp17.804 per dolar AS pada akhir perdagangan hari ini.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu sentimen datang dari eksternal yakni pasar global telah membaik secara signifikan sejak Washington dan Teheran menandatangani kesepakatan sementara yang bertujuan untuk mengakhiri permusuhan dan memulihkan navigasi komersial melalui Selat Hormuz, jalur air vital yang biasanya mengangkut sekitar seperlima pengiriman minyak global.
"Kesepakatan tersebut telah meningkatkan harapan bahwa jutaan barel minyak mentah yang terdampar secara bertahap dapat kembali ke pasar internasional dalam beberapa minggu dan bulan mendatang," tulis Ibrahim dalam risetnya, Jakarta, Jumat (19/6/2026).
AS mengatakan telah mencabut blokade terhadap Iran pada hari Kamis seiring berlakunya kesepakatan sementara tersebut. Kapal-kapal yang membawa minyak yang terdampar mulai keluar dari jalur air tersebut pada hari Kamis, menurut laporan.
Prospek ekspor yang kembali meningkat telah menghapus sebagian besar premi risiko geopolitik yang telah mendorong harga minyak di atas USD120 per barel pada puncak krisis. Namun, pasukan Israel melancarkan serangan udara baru pada Kamis pagi, menimbulkan beberapa keraguan tentang kesepakatan perdamaian tersebut.
Selain itu, sembilan dari 19 pembuat kebijakan Fed memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini, memperkuat ekspektasi bahwa biaya pinjaman dapat tetap tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.
Adapun the Fed mempertahankan suku bunga tidak berubah pada hari Rabu, tetapi komentar dari Ketua Kevin Warsh ditafsirkan oleh pasar sebagai sangat agresif, meningkatkan imbal hasil obligasi pemerintah dan mengangkat dolar AS ke level terkuatnya dalam lebih dari setahun.
Meskipun ekspektasi inflasi yang lebih rendah biasanya akan mendukung kebijakan moneter yang lebih longgar, investor malah fokus pada kesediaan Fed yang diperbarui untuk memperketat kebijakan lebih lanjut jika tekanan harga terus berlanjut.
Dari sentimen domestik, Morgan Stanley Capital International (MSCI) resmi mengumumkan peringkat kriteria arus informasi. Lembaga itu menyatakan peringkat kriteria arus informasi (information flow) Indonesia menjadi negatif dalam laporan 2026 Global Market Accessibility Review.