JAKARTA - Keputusan MSCI untuk tetap mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market berpeluang memperbaiki persepsi investor terhadap pasar modal Indonesia dan meredakan tekanan jual yang selama ini membayangi pergerakan IHSG.
Namun demikian, Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana menitikberatkan bahwa dampak positif tersebut masih bersifat terbatas karena belum mampu menjawab berbagai tantangan fundamental yang menjadi perhatian investor global.
“Status Emerging Market memang berhasil dipertahankan, tetapi arah pasar selanjutnya akan lebih ditentukan oleh kondisi fiskal nasional, stabilitas nilai tukar rupiah, prospek suku bunga global, serta kemampuan pemerintah menjaga kredibilitas kebijakan ekonomi di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan berbagai program strategis nasional,” ujar Hendra, Rabu (24/6/2026).
Menurut Hendra, tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan lagi sekadar mempertahankan status Emerging Market, melainkan mengembalikan kepercayaan investor asing yang hingga kini masih cenderung berhati-hati.
Hal ini sejalan dengan perhatian pasar yang tertuju pada potensi pelebaran defisit APBN seiring meningkatnya kebutuhan anggaran untuk berbagai program prioritas pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes).
“Investor membutuhkan kepastian mengenai sumber pendanaan, efektivitas pelaksanaan, serta dampaknya terhadap kesehatan fiskal jangka panjang. Selama kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal masih belum sepenuhnya terjawab, minat investor asing untuk kembali masuk secara agresif ke pasar domestik diperkirakan akan tetap terbatas,” jelas Hendra.
Kondisi tersebut, kata Hendra, tercermin dari masih besarnya aksi jual bersih (net sell) investor asing yang sejak awal tahun telah mencapai sekitar Rp83 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap prospek pasar Indonesia belum sepenuhnya pulih, meskipun MSCI mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Market.
Tekanan terhadap pasar juga masih terlihat dari pergerakan nilai tukar rupiah yang pada perdagangan pagi ini berada di kisaran Rp17.933 per dolar AS.
Sejalan dengan itu, pelemahan rupiah tersebut menjadi salah satu indikator bahwa investor global masih mencermati berbagai risiko yang melekat pada perekonomian domestik, terutama terkait keberlanjutan fiskal, kebutuhan pembiayaan pemerintah, serta arah arus modal asing ke depan.
Hendra mewanti-wanti bahwa selama belum terdapat katalis fundamental yang cukup kuat untuk mendorong perubahan sentimen secara signifikan, pergerakan IHSG diperkirakan akan lebih banyak bergerak dalam pola sideways dengan volatilitas tinggi.
“Secara teknikal, level 5.677 menjadi area support penting yang perlu dipertahankan untuk menjaga momentum pasar, sementara level 6.977 menjadi area resistance utama yang akan menjadi ujian bagi upaya penguatan indeks dalam jangka menengah,” ungkapnya.
Atas dasar itu, Hendra menekankan bahwa penguatan yang lebih berkelanjutan baru berpotensi terjadi apabila pemerintah mampu menunjukkan komitmen yang kuat dalam menjaga disiplin fiskal, mengendalikan defisit anggaran, menjaga stabilitas rupiah, serta mendorong kembalinya aliran dana asing ke pasar domestik.
“Keputusan MSCI saat ini dapat dipandang sebagai faktor penahan risiko penurunan yang lebih dalam, namun belum cukup menjadi katalis utama untuk membawa IHSG memasuki fase bullish tanpa didukung perbaikan fundamental ekonomi dan fiskal yang lebih meyakinkan,” ucap dia.
Adapun keputusan MSCI mempertahankan status Indonesia di level Emerging Market tertuang dalam MSCI 2026 Market Classification Review yang dirilis pada Selasa (23/6/2026) waktu setempat atau Rabu dini hari (24/6/2026).
“Kerangka Klasifikasi Pasar MSCI menentukan apakah suatu pasar termasuk pasar maju, berkembang, atau perbatasan berdasarkan tingkat aksesibilitas dan kelayakan investasi yang benar-benar dialami oleh investor institusional internasional,” kata Head of Market Classification and Taxonomies Raman Aylur Subramanian dalam MSCI 2026 Market Classification Review, Rabu (24/6).
Pencantuman dalam indeks dan klasifikasi pasar dinilai MSCI bukanlah penilaian yang statis. Sebab, keduanya harus terus dievaluasi sesuai dengan perubahan pasar dan pengalaman para investor institusional internasional.
“Ketika akses pasar atau pengalaman tersebut memburuk, kerangka kerja kami mengharuskan kami untuk merespons dengan tegas. Dan ketika aksesibilitas dan kelayakan investasi pasar membaik,” kata Raman.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.