Meski demikian, kenaikan IHSG masih perlu disikapi secara selektif karena belum didukung oleh arus dana asing yang kuat. Sepanjang tahun berjalan investor asing masih membukukan net sell sekitar Rp88 triliun, bahkan pada perdagangan Jumat asing kembali mencatatkan net sell sekitar Rp16 miliar.
"Artinya, reli yang terjadi saat ini lebih banyak ditopang oleh investor domestik dan membaiknya sentimen global dibandingkan adanya arus masuk dana asing. Selama investor asing belum berbalik melakukan akumulasi secara konsisten, potensi volatilitas pasar masih tetap tinggi sehingga kenaikan IHSG diperkirakan berlangsung secara bertahap," kata Hendra.
Namun setelah reli tajam pada Jumat, tidak tertutup kemungkinan terjadi aksi ambil untung jangka pendek sehingga pergerakan indeks diperkirakan tetap fluktuatif.
Di tengah kondisi tersebut, Hendra menyimpulkan bahwa strategi yang lebih tepat adalah melakukan selective buying pada saham-saham yang masih memiliki momentum teknikal positif. BRIS layak dicermati dengan rekomendasi speculative buy dan target harga 1.945, seiring mulai munculnya sinyal akumulasi.
"MDKA juga menarik untuk speculative buy dengan target 2.900 didukung prospek sektor logam yang mulai membaik. Sementara itu, MBMA dapat dipertimbangkan untuk trading buy dengan target 600 karena masih berpotensi memperoleh sentimen positif dari industri nikel dan kendaraan listrik," kata dia.
"Adapun SCMA layak masuk radar speculative buy dengan target 250 setelah menunjukkan indikasi rebound dari fase konsolidasinya," imbuhnya.
Sebab, fokus investor juga masih dapat diarahkan pada sektor perbankan, pertambangan logam, industri, dan media yang berpotensi melanjutkan momentum penguatan, namun tetap dengan disiplin manajemen risiko mengingat arus dana asing masih belum sepenuhnya kembali ke pasar saham Indonesia.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.