Pemerintah memperkirakan defisit APBN sepanjang 2026 mencapai Rp734,3 triliun atau 2,85 persen terhadap PDB.
Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan target awal APBN sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68 persen terhadap PDB, seiring dengan meningkatnya belanja negara yang diperkirakan mencapai Rp3.942,4 triliun.
Meski demikian, defisit masih berada di bawah batas maksimal 3 persen terhadap PDB.
Ekonom UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai pelebaran defisit perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas belanja pemerintah.
Menurutnya, belanja subsidi dan kompensasi energi menjadi salah satu sumber tekanan terhadap APBN. Hingga Semester I 2026, realisasi subsidi dan kompensasi energi mencapai Rp233 triliun atau 52,1 persen dari pagu APBN, naik 44,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pemerintah menyebut kenaikan tersebut dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak mentah, pelemahan nilai tukar rupiah, serta meningkatnya konsumsi BBM, LPG, dan listrik.