Kesejahteraan petani juga tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) nasional yang mencapai 127,65 pada Juni 2026. Sementara itu, Nilai Tukar Petani Subsektor Tanaman Pangan (NTPP) berada di level 114,65, tertinggi sejak Maret 2024.
Dari sisi konsumen, Ketut menegaskan pemerintah tetap menjaga keterjangkauan harga beras melalui berbagai program intervensi, termasuk bantuan pangan bagi 33,24 juta keluarga penerima manfaat.
"Nah, lalu tingkat konsumen bagaimana? Makanya ada bantuan pangan bagi 33,24 juta keluarga. Kalau 1 keluarga ada 3 orang saja, kali 3, kan sekitar 90 juta sekian orang sudah kita bantu dengan bantuan pangan. Ini meringankan masyarakat kita yang membutuhkan," ujarnya.
Ketut mengungkapkan intervensi beras yang telah dilaksanakan pemerintah hingga Juli 2026 mencapai total 1,35 juta ton. Realisasi tersebut terdiri atas bantuan pangan alokasi Februari dan Maret sebesar 664,88 ribu ton, realisasi program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras pada Januari dan Maret sebesar 221,05 ribu ton, serta realisasi SPHP beras sejak Maret hingga Juli sebesar 465,05 ribu ton.
"Tentu juga ada SPHP. SPHP beras yang digelontorkan oleh pemerintah. Ini juga sangat mendukung. Nah, oleh karena itu, sisi hulu nyaman berproduksi, sisi hilir dibantu dengan bantuan pangan dan SPHP. Ada lagi Gerakan Pangan Murah dan lain sebagainya," tutup Ketut.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.