Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Purbaya Siapkan Strategi Alirkan Likuiditas dari Bank Besar ke Bank Kecil

Anggie Ariesta , Jurnalis-Selasa, 21 Juli 2026 |21:31 WIB
Purbaya Siapkan Strategi Alirkan Likuiditas dari Bank Besar ke Bank Kecil
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengandalkan mekanisme manajemen kas (cash management) pada bank skala besar untuk mengalirkan likuiditas secara bertahap. (Foto :Okezone.com/IMG)
A
A
A

JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengandalkan mekanisme manajemen kas (cash management) pada bank skala besar untuk mengalirkan likuiditas secara bertahap ke seluruh jajaran industri perbankan. Langkah ini merespons keluhan terkait likuiditas yang sempat dialami kelompok bank kategori KBMI 2 dan KBMI 3 (sebelumnya dikenal sebagai BUKU 2 dan 3).

"Kita harapkan bantuan atau manajemen cash. Soalnya itu bisa membantu ke Bank BUKU 4. Nanti itu harusnya pelan-pelan turun ke BUKU 2 dan BUKU 3," kata Purbaya kepada awak media usai Konferensi Pers APBN Kita, Selasa (21/7/2026).

Melalui skema tersebut, Purbaya menilai penyaluran likuiditas pemerintah terlebih dahulu difokuskan kepada bank kelompok KBMI 4, yaitu bank dengan modal inti paling sedikit Rp30 triliun, dengan harapan dampaknya akan berantai ke segmen perbankan menengah dan kecil.

"Kita kasih ke BUKU 4 kan (bantuan cash). Nanti ke BUKU 3, BUKU 2, BUKU 1 pelan-pelan akan menyebar," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, pemerintah menyiapkan total dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) untuk ditempatkan kembali di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) yang mencakup bank KBMI 3 dan 4 sebesar Rp281 triliun.

Selain itu, pemerintah juga menyiagakan cadangan likuiditas tambahan sebesar Rp100 triliun apabila terdapat kebutuhan mendesak dari sektor perbankan.

Di sisi lain, Purbaya memberikan perhatian khusus terhadap kinerja Bank Pembangunan Daerah (BPD) yang mencatatkan penurunan pada pertumbuhan kredit dan Dana Pihak Ketiga (DPK).

Untuk menjaga fungsi intermediasi di daerah, Kementerian Keuangan mengkaji peluang penempatan dana langsung kepada kelompok BPD tersebut.

"Ada beberapa (BPD) yang kita lihat kreditnya negatif. DPK-nya negatifnya kencang sekali. Saya coba lihat nanti bisa nggak saya taruh langsung uang sebagian di bank-bank BPD itu," kata Purbaya.

Di tengah dinamika likuiditas antarkelompok bank, data industri perbankan nasional per pertengahan 2026 mencatatkan kinerja yang masih solid. Pertumbuhan kredit industri berada di level 11,51 persen (year-on-year/yoy) atau mencapai kisaran Rp8.600 triliun, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 13,49 persen (year-on-year/yoy) atau mencapai kisaran Rp10.294 triliun.

Alat Likuid terhadap DPK (AL/DPK) berada di kisaran 24,74 persen, masih jauh di atas ambang batas ketentuan regulator.

Meskipun indikator industri secara umum berada di level aman, distribusi likuiditas masih terkonsentrasi di bank-bank besar (KBMI 4). Hal ini mendorong bank-bank di kelompok KBMI 2 dan KBMI 3 terus melakukan pembenahan fundamental, memperkuat permodalan, serta bergantung pada aliran pasokan likuiditas dari pasar uang antarbank maupun fasilitas manajemen kas pemerintah.

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement