"Kemarin saya dari Indonesia-China Investment Forum, tahun lalu China dan Hong Kong investasi 18 miliar dolar AS, tahun ini mungkin bisa 21-22 miliar dolar AS yang diperjelas Kementerian Investasi. Dagang dengan China tahun lalu 138 miliar, tahun ini mungkin lebih dari 200 miliar dolar AS," kata dia.
Atas dasar itu, Anin mengatakan defisit neraca dagang memang benar menjadi isu bagi setiap negara yang melakoni perdagangan internasional, tetapi Indonesia dinilainya memiliki pasar ekspor ke banyak negara yang selama ini menjadi tumpuan pendapatan nasional.
"Ini menandakan bahwa terlepas dari opini dan noise di luar, faktanya data mengatakan trade jalan dan investasi jalan," ungkap Anin.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indonesia mencatatkan defisit neraca perdagangan sebesar USD 1,6 miliar pada Mei 2026. Meski begitu, secara kumulatif periode Januari-Mei 2026, neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus sebesar US4 miliar.
Nilai ekspor mencapai US115,4 miliar atau naik 3,02% secara tahunan, namun angka ini tidak mampu mengimbangi lonjakan impor yang tumbuh 15,24% menjadi US$111,3 miliar, sehingga bantalan surplus perdagangan semakin menipis.
Kajian NEXT Indonesia Center mengungkapkan penurunan ekspor pada Mei 2026 sebesar 8,30% dibanding bulan sebelumnya disebabkan oleh pelemahan komoditas unggulan seperti minyak sawit, besi dan baja, mesin elektrik, tembaga, hingga produk kimia.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.