"Hal ini memberikan keyakinan kepada kami bahwa terlepas dari berbagai kekhawatiran di tingkat makro, selama emiten mampu membukukan kinerja laba yang solid, penilaian valuasinya akan kembali menyesuaikan," jelasnya.
Faktor kedua adalah keputusan MSCI yang mempertahankan Indonesia dalam klasifikasi Emerging Market. Langkah tersebut dinilai dapat membendung risiko tekanan aksi jual (sell-off) lebih lanjut dari aliran dana pasif (passive funds).
Faktor ketiga berkaitan dengan asumsi makroekonomi yang menjadi dasar pergerakan pasar, termasuk proyeksi nilai tukar rupiah di kisaran Rp18.000 per dolar AS serta tidak adanya potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed pada sisa tahun ini.
Kondisi tersebut diperkirakan akan membuat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) hanya berpotensi naik maksimal satu hingga dua kali lagi.
"Kami menilai level IHSG saat ini yang berada di kisaran 6.200 dengan nilai transaksi harian yang sangat tipis dibandingkan 12 bulan terakhir. Oleh karena itu, ketika kepercayaan pasar mulai pulih seiring rilis kinerja laba kuartal kedua yang saat ini sedang berlangsung, serta potensi rotasi dana asing, mengingat kinerja relatif pasar saham Indonesia dibandingkan negara-negara Asia lainnya tercatat sedikit underperform, Indonesia memiliki ruang untuk mengejar ketertinggalan kinerja (catch up) terhadap kawasan ASEAN secara keseluruhan," pungkas William.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.