Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong menjelaskan bahwa melemahnya indeks dolar AS akibat rilis data tenaga kerja serta meredanya tensi di Selat Hormuz menjadi pendorong utama pergerakan positif rupiah.
"Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS yang tertekan oleh data JOLTS AS yang lebih lemah dari perkiraan dan optimisme pembukaan kembali Selat Hormuz setelah muncul laporan bahwa AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan," ujar Lukman dalam risetnya.
Meski demikian, Lukman menilai laju kenaikan rupiah masih berpotensi tertahan mengingat para investor cenderung berhati-hati menunggu rilis data PDB kuartal II 2026 yang dijadwalkan diumumkan pemerintah pada siang hari.
Data pertumbuhan ekonomi tersebut bakal menjadi indikator kunci bagi arah pergerakan rupiah dan pasar keuangan domestik.
Jika pertumbuhan PDB melampaui ekspektasi, sentimen pasar terhadap aset-aset Indonesia diprediksi kian membaik.
Untuk sepanjang hari ini, Lukman memproyeksikan rupiah bergerak dalam kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.