PROBOLINGGO - 'Dunia tidak selebar daun kelor', Peribahasa ini sering muncul di telinga masyarakat Indonesia.
Peribahasa ini menggambarkan dunia sangat luas dan tidak sempit. Ungkapan ini dipakai untuk menasihati seseorang agar tidak mudah putus asa, menyerah atau berpikiran sempit saat menghadapi masalah, kegagalan atau kehilangan.
Namun, ternyata di wilayah Probolinggo, terdapat desa bernama Desa Pondok Kelor, Kecamatan Paiton, Jawa Timur. Sesuai dari namanya, desa ini mempunyai 'harta karun' daun kelor dan menyulap daun kelor menjadi cuan.
Dengan pendampingan hingga pelatihan yang dibutuhkan, produk olahan daun kelor kini menjelma sebagai salah satu produk UMKM yang diminati.
Pendampingan UMKM ini dilakukan PT Paiton Energy (PE) bersama anak usahanya, PT Paiton Operation & Maintenance Indonesia (POMI). Program pemberdayaan tersebut tidak hanya diarahkan pada pemberian bantuan, tetapi juga pendampingan agar potensi yang dimiliki masyarakat dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.
Presiden Direktur POMI Sugiyanto mengatakan, kehadiran POMI di masyarakat tidak hanya sebatas menghasilkan listrik, tetapi juga memberikan manfaat melalui berbagai program pemberdayaan.
“Tidak hanya menghasilkan listrik, tapi hadir di tengah-tengah masyarakat. Bentuk TJSL, memberikan bantuan dan bimbingan sebesar dari apa yang bisa kita berikan,” ujar Sugiyanto di Kantor Desa Pondok Kelor, Minggu (16/8/2026).
Menurut dia, pengembangan masyarakat dilakukan berdasarkan potensi yang dimiliki masing-masing desa. POMI terlebih dahulu melakukan social mapping untuk memetakan sumber daya alam, potensi masyarakat, hingga potensi kepemudaan.
“Dari punya potensi yang belum berdaya jadi yang bermanfaat,” katanya.
Desa Pondok Kelor menjadi salah satu lokasi program pemberdayaan yang telah berjalan sejak 2022. Memasuki tahun keempat, POMI berharap pendampingan yang dilakukan mampu membawa masyarakat menuju kemandirian.
“Pondok Kelor mulai 2022, ini tahun keempat. Harapan kami desa ini bisa mandiri,” kata Sugiyanto.
Ia menekankan, keberhasilan program community development sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat dan tata kelola yang baik. Karena itu, POMI mendorong keterlibatan tokoh masyarakat dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) agar program tidak menimbulkan perebutan kepentingan dan dapat dikelola secara bersama.
Salah satu aspek yang terus diperkuat adalah pengelolaan keuangan. Menurut Sugiyanto, pencatatan dan laporan keuangan menjadi bagian penting dalam memastikan perkembangan usaha dapat diukur dari waktu ke waktu.
“Laporan keuangan ini penting, disiplin. Dari waktu ke waktu tumbuh berapa, kalau tidak tumbuh kenapa. Ada omzet. Kalau diabaikan tidak berkembang,” ujarnya.
Dengan pencatatan keuangan secara rutin, pengelola BUMDes dapat mengetahui perkembangan usaha secara bulanan sekaligus menentukan langkah perbaikan yang diperlukan.
Selain pengelolaan keuangan, POMI juga mendorong peningkatan kemampuan produksi, kualitas produk, pemasaran, hingga pemanfaatan pemasaran digital. Penguatan manajemen BUMDes juga diharapkan membuka peluang sinergi dengan BUMDes lainnya.
“Kita siap bahu membahu dengan masyarakat agar berkembang,” kata Sugiyanto.
Mengembangkan Identitas Pondok Kelor
Sementara itu, Head of Human Capital, Facility and Community (HCFC) POMI Rochman Hidayar mengatakan, pengembangan UMKM Pondok Kelor pada awalnya dimulai dari produk minuman kunyit asam.
Dari produk tersebut, POMI bersama masyarakat kemudian berdiskusi untuk menghidupkan kembali identitas Desa Pondok Kelor melalui pengembangan tanaman kelor.
“Kita mulai dari produk kunyit asam, kemudian kita diskusi bagaimana mengembalikan nama Pondok Kelor. Kemudian kita mulai menanam,” ujarnya.
Tanaman kelor yang awalnya ditanam di sepanjang jalan desa kini telah tumbuh dan diperluas ke lingkungan rumah warga, termasuk pengembangan di rumah kaca (green house) milik desa.
Selain tanaman dan produk kelor, POMI memberikan stimulus melalui pembangunan galeri UMKM serta pelatihan pengelolaan keuangan. Pendampingan tersebut ditujukan agar model bisnis yang telah terbentuk dapat terus bertahan dan berkembang.
“Harapannya nanti bisnis model yang ada tetap sustain dan bisa terus berkembang dengan pengelolaan keuangan yang baik,” katanya.
Pengembangan kelor juga dinilai memiliki peluang untuk melahirkan produk turunan baru. Salah satunya adalah produk batik dengan mengangkat tema kelor sebagai identitas khas Desa Pondok Kelor.
Peluang pasar produk UMKM dampingan POMI juga semakin terbuka. Produk kelor Pondok Kelor bahkan telah diperkenalkan dalam pameran kelistrikan di Surabaya.
“Kita tampilkan produk dampingan kita termasuk produk kelor. Di sana juga ada masukan bagus, produk ini tidak hanya skala nasional tapi juga bisa ekspor juga,” ujarnya.
Kini UMKM Glamor Desa Pondok Kelor mengembangkan berbagai produk makanan dan minuman berbasis daun kelor (superfood) bernutrisi tinggi serta produk non-kelor untuk memperkuat identitas desa dan meningkatkan nilai ekonomi tanaman warga.
Memiliki sekitar 25 produk olahan kelor (seperti mi kelor, bakso kelor, es krim kelor, peyek kelor, stik kelor, hingga nastar moringa) dan 20 produk non-kelor.
Bahan baku daun kelor muda dan segar diambil langsung dari pekarangan rumah warga untuk memastikan kualitas produk tetap berwarna hijau alami sekaligus memberdayakan perekonomian warga desa.
Bahkan, omzet UMKM tersebut telah mencapai lebih dari Rp50 juta per bulan dan ikut memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli desa.
Kepala Desa Pondok Kelor Fredericks Ade Candra mengapresiasi pendampingan yang diberikan POMI. Menurutnya, dukungan tersebut telah memberikan perubahan nyata bagi masyarakat desa sejak program dimulai pada 2022.
“Berawal dari minuman kunyit asam (Pelka), support POMI memang luar biasa, dari penyediaan alat, kemudian kita dibuatkan galeri,” kata Fredericks.
Dia menceritakan, pada 2022, tanaman kelor justru sudah jarang ditemukan di desa yang menggunakan nama tersebut.
Pemerintah desa kemudian mendorong penanaman kembali kelor. Setiap tahun sekitar 1.000 bibit ditanam hingga kini jumlahnya mencapai sekitar 3.000 pohon. Warga juga didorong menerapkan konsep satu rumah satu pohon kelor.
Ia menilai dukungan POMI tidak berhenti pada pemberian bantuan. Pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan membuat berbagai fasilitas dan program yang diberikan dapat berkembang dan dimanfaatkan masyarakat.
“Nyata dari 2022 kita kerja sampai 2026 memang wujudnya ada, enggak dikasih terus terbengkalai. Kita dikasih malah berkembang,” ujarnya.
Kini, produk UMKM Desa Pondok Kelor juga mulai menjadi pilihan ketika desa menerima kunjungan tamu. Hal tersebut menunjukkan bahwa produk lokal mulai memiliki tempat sekaligus menjadi bagian dari identitas desa.
"Kita juga ada pendampingan dari POMI. Sekarang kalau ada tamu, pesanannya dari Desa Pondok Kelor,” kata Fredericks.
Ke depan, Pemerintah Desa Pondok Kelor juga mulai membidik pasar ekspor untuk produk kelor. Namun, Fredericks menyadari masih terdapat sejumlah tahapan yang harus dipenuhi, terutama terkait sertifikasi dan kesiapan standar produk.
“Kita juga merencanakan ekspor, bagaimana mengekspor kelor. Tapi ke arah sana berat, perlu banyak sertifikasi yang harus disiapkan. Pelan-pelan step ke sana,” ujarnya.
Upaya tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang pemberdayaan masyarakat Pondok Kelor. Dari produk sederhana berupa kunyit asam, masyarakat kini mulai membangun ekosistem usaha berbasis potensi lokal, dengan kelor sebagai salah satu identitas sekaligus sumber peluang ekonomi baru.
Bagi POMI, keberhasilan program TJSL bukan sekadar seberapa besar bantuan yang diberikan, tetapi sejauh mana masyarakat mampu mengelola potensi secara mandiri, membangun usaha yang berkelanjutan, dan menciptakan manfaat ekonomi bagi desa.
Sementara itu, program berikutnya berada di Desa Randutatah, Kecamatan Paiton, melalui pengembangan Pantai Greenthing menjadi kawasan ekowisata berbasis konservasi mangrove.
Kepala Desa Randutatah Suham mengatakan kawasan tersebut memiliki sejarah panjang dengan abrasi. Pada era 1960-an, terdapat sebuah dusun bernama Greenthing yang akhirnya hilang akibat abrasi.
Kondisi tersebut mendorong masyarakat, khususnya pemuda desa, melakukan penanaman mangrove sejak 2005. Saat ini kawasan tersebut memiliki sekitar 5 hektare tanaman mangrove.
“Kalau dulu tahun 2005 tidak kita tanam mangrove, pasti bisa habis nih sampai permukiman masyarakat,” ujar Suham di Pantai Greenthing.
Paiton Energy dan POMI kemudian memberikan dukungan terhadap pengembangan kawasan tersebut. Salah satunya melalui penanaman 3.000 batang mangrove pada September 2022.
Dukungan juga diberikan dalam bentuk fasilitas operasional, seperti satu unit perahu fiber berkapasitas tujuh orang untuk menyusuri sungai mangrove sepanjang sekitar 800 meter, gerobak sampah, serta meja dan kursi pantai.
Pengelolaan ekowisata dilakukan oleh BUMDes Duta Bahari. Kawasan mangrove dilengkapi jembatan bambu sehingga wisatawan dapat menikmati kawasan konservasi tanpa merusak akar mangrove. Pengembangan tersebut kemudian menciptakan aktivitas ekonomi baru bagi masyarakat.
Greenthing Beach & Mangrove Forest mencatatkan omzet Rp409,04 juta pada 2025, melampaui target yang ditetapkan. Kawasan tersebut juga membuka peluang usaha bagi masyarakat melalui UMKM kuliner dan penjualan hasil laut.
Suham mengatakan jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam pengelolaan kawasan meningkat dari sekitar lima orang menjadi 15 orang. Omzet yang sebelumnya sekitar Rp1 juta juga berkembang hingga sekitar Rp25 juta.
Pengembangan kawasan tidak hanya mengandalkan potensi alam. Tradisi masyarakat Randutatah dalam mencari kerang juga diangkat menjadi bagian dari atraksi wisata melalui Tari Rangkarang.
Dengan demikian, pengembangan Greenthing menggabungkan konservasi mangrove, pariwisata, pemberdayaan ekonomi, dan pelestarian budaya lokal.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.