Kemudian, Bank Indonesia mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai USD453,4 miliar atau sekitar Rp8.089,1 triliun. Posisi tersebut tumbuh 4,4 persen secara tahunan (yoy). Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan posisi ULN Indonesia pada Mei 2026 yang tercatat sebesar USD444,4 miliar atau sekitar Rp7.928,5 triliun.
Perkembangan ULN pada triwulan II 2026 menunjukkan ULN Indonesia tetap terjaga dengan dukungan peningkatan ULN publik dan kontraksi ULN swasta yang semakin rendah.
ULN pemerintah pada triwulan II 2026 tercatat sebesar USD216,3 miliar atau sekitar Rp3.860,4 triliun, tumbuh 2,9 persen (yoy). Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan I 2026 sebesar 3,8 persen (yoy).
Perkembangan utang pemerintah terutama dipengaruhi aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia yang tetap terjaga.
Selain itu, BI mulai menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) selama dua hari pada 18–19 Agustus 2026. Keputusan kebijakan moneter akan diumumkan pada Rabu (19/8/2026).