Proses CNG Masuk Rumah Tangga
Gas terlebih dahulu dikompresi dan diangkut menggunakan Gas Transport Module (GTM). Setelah tiba di lokasi, tekanan gas diturunkan melalui Pressure Regulating Station (PRS) sebelum disalurkan kepada pelanggan.
"Ini adalah ide kita bahwa kan biasanya kalau pipa gas, gas pipa itu kan kalau ada sumber gas, pakai pipa. Karena Yogyakarta ini tidak ada sumber gasnya, jauh dari sumber gas, makanya dengan cara adalah dengan CNG," jelasnya.
Dengan sistem tersebut, masyarakat di wilayah yang jauh dari sumber gas tetap dapat menikmati gas bumi.
Meski memiliki tekanan tinggi saat diangkut, PGN Gagas memastikan CNG yang disalurkan kepada pelanggan telah melalui proses penurunan tekanan secara bertahap.
Tekanan CNG yang berada di dalam GTM dapat mencapai sekitar 200 bar. Tekanan tersebut kemudian diturunkan melalui PRS sebelum masuk ke jaringan pelanggan rumah tangga.
Untuk rumah tangga, tekanan kembali diturunkan melalui Regulating Station (RS) hingga mencapai tekanan yang sesuai untuk digunakan pada kompor.
Santiaji menegaskan aspek keselamatan menjadi bagian penting dalam pengembangan CNG.
"Kementerian tetap sedang mengkaji terus aspek safety-nya. Supaya yang nanti disampaikan masyarakat adalah dengan barang yang sudah dengan aspek safety yang tinggi," ujarnya.

PGN Gagas juga melakukan patroli jaringan dan menyiagakan operator selama 24 jam untuk mengantisipasi gangguan, termasuk potensi kebocoran. Selain itu, gas bumi yang disalurkan telah diberi odoran untuk membantu masyarakat mendeteksi kebocoran sejak dini.
PGN Gagas saat ini telah mengembangkan CNG di sejumlah wilayah Indonesia. Penggunaan CNG mencakup pelanggan rumah tangga hingga sektor komersial seperti hotel, restoran, dan kafe.
Untuk Yogyakarta, volume penggunaan CNG saat ini sekitar 74.000 meter kubik per bulan. Angka tersebut masih berpotensi meningkat sekitar 10.000 meter kubik sehingga dapat mencapai sekitar 84.000 meter kubik per bulan.
Santiaji mengatakan pengembangan CNG tetap harus memperhatikan aspek keekonomian. Menurutnya, jarak sumber gas dengan lokasi pelanggan menjadi salah satu faktor yang menentukan biaya distribusi.
"Yang penting kan ekonomian. Karena kalau dengan ekonomi, masyarakat bisa nyerap harganya kan lebih enak," katanya.
