Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

CNG Kurangi Impor LPG, Orkestrasi PGN Salurkan Gas Bumi ke Rumah Tangga-Industri

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Kamis, 20 Agustus 2026 |08:02 WIB
CNG Kurangi Impor LPG, Orkestrasi PGN Salurkan Gas Bumi ke Rumah Tangga-Industri
CNG Kurangi Impor LPG, Orkestrasi PGN Salurkan Gas Bumi ke Rumah Tangga-Industri (Foto: Dani/Okezone)
A
A
A

Gas Bumi Masuk ke Sendi Kehidupan

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan, kesiapan PGN dalam implementasi jargas berbasis CNG di Sleman. Inovasi ini sejalan dengan langkah pemerintah yang terus mendorong pemanfaatan gas bumi sebagai energi transisi yang lebih bersih, efisien, dan berasal dari sumber daya domestik untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Melalui RPJMN 2026-2029, pemerintah menargetkan pengembangan sekitar 350 ribu sambungan rumah per tahun melalui berbagai skema pendanaan.

"Penggunaan CNG dan jargas berdampak pada efisiensi Ibu-ibu rumah tangga, praktis dan aman. Sedangkan bagi Pemerintah dapat mengurangi konsumsi LPG Subsidi dan mengurangi beban subsidi dan impor LPG," ujar Yuliot dalam keterangannya, Jakarta, Senin (22/6/2026).

Direktur Utama PGN Arief K Risdianto menyambut baik kunjungan Wakil Menteri ESDM tersebut dan menyampaikan apresiasi kepada KESDM serta stakeholder terkait atas dukungan implementasi CNG Clustering di Sleman ini. 

PGN menegaskan bahwa jargas Sleman yang menggunakan skema CNG clustering berhasil dilaksanakan sekaligus menjadi bukti nyata bahwa inovasi tersebut dapat diterapkan di wilayah lain di Indonesia. 

Dengan skema CNG Clustering ini, gas bumi dapat didistribusikan secara aman dan andal ke jaringan distribusi rumah tangga, tanpa menunggu keberadaan jaringan pipa transmisi utama.

"Masyarakat tidak perlu khawatir terkait keamanan, karena CNG yang bertekanan tinggi sekitar 200 bar telah disesuaikan dengan sistem cluster agar mengalir dengan aman ke dapur-dapur rumah tangga. Dengan pengawasan yang ketat dan teknologi pengaturan tekanan (PRS) yang andal, aliran gas bumi ke dapur-dapur dipastikan aman untuk penggunaan sehari-hari,” jelas Arief.

Arief melanjutkan, kehadiran jargas ini sangat mendukung aktivitas memasak rumah tangga menjadi jauh lebih praktis, efisien dan tenang karena keamanannya terjaga. Di sisi lain, jargas ini merupakan langkah nyata untuk membantu pemerintah dalam meringankan beban anggaran negara dengan mengurangi ketergantungan pada impor dan subsidi energi.

Hingga saat ini, PGN telah membangun lebih dari 4.500 Sambungan Rumah (SR) di Sleman dengan bentangan jaringan pipa distribusi sepanjang lebih dari 141 kilometer. 

Rata-rata penyaluran gas bumi kepada pelanggan Jargas Sleman telah mencapai sekitar 84 ribu meter kubik (M3) per bulan. Angka ini setara dengan pemanfaatan sekitar 64 metrik ton LPG per bulan.

Pemanfaatan jargas di wilayah Sleman juga tidak hanya menyasar sektor rumah tangga, tetapi akan terus diperluas secara masif untuk memperkuat ekonomi lokal, mulai dari sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), restoran, perhotelan, hingga fasilitas kesehatan seperti rumah sakit.

Dalam mengeksekusi layanan beyond pipeline ini, PGN mengoptimalkan sinergi bersama anak perusahaannya, PT Gagas Energi Indonesia (Gagas), yang telah memiliki portofolio dalam pengelolaan distribusi gas non-pipa. 

Saat ini, PGN melalui Gagas mengelola dan mengoperasikan 14 SPBG/Mother Station serta 4 Mobile Refueling Unit (MRU) yang telah menjangkau berbagai konsumen CNG di sektor transportasi, komersial, dan industri di berbagai wilayah Indonesia.

Salah satu pelanggan komersial yang telah menggunakan CNG adalah Rumah Makan Payakumbuah Yogyakarta, dengan pemakaian CNG mencapai 2.000 - 2.300 M³. Manfaat yang dirasakan pada operasional rumah makan ini adalah efisiensi biaya energi. Jika dibandingkan energi sebelumnya, memakai CNG dapat menghemat biaya sekitar 30 – 33%.

"Kami siap mendukung langkah Pemerintah dalam merumuskan pemanfaatan implementasi CNG yang tepat sasaran dan berperan aktif dalam target diversifikasi energi nasional," tutup Arief

Penghematan Pakai CNG

Sekadar informasi, salah satu keunggulan utama CNG adalah harga yang lebih kompetitif dibandingkan LPG. Berdasarkan perhitungan pemerintah, biaya penggunaan CNG dapat lebih rendah sekitar 30% hingga 40%. 

"Harganya lebih murah 30% sampai 40% dari pada LPG,” ujar Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (6/7/2026). 

Bahlil menjelaskan bahwa efisiensi tersebut berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap anggaran subsidi energi. Dengan nilai subsidi LPG yang saat ini mencapai sekitar Rp86 triliun hingga Rp90 triliun per tahun, penghematan dapat mencapai sekitar Rp27 triliun hingga Rp30 triliun apabila penggunaan CNG mampu menekan biaya sekitar 30%. 

“Kalau 30% sampai 40%, sekarang subsidi kita berapa? Rp86 triliun sampai Rp90 triliun. Kali rata-rata lah, kalau katakanlah 25%, kali 30%, berarti kan Rp27 triliun sampai Rp30 triliun bisa kita lakukan efisiensi,” kata Bahlil.

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement