Dudy menjelaskan, kapal berangkat dari Padangbai sekitar pukul 02.00 WITA. Sekitar pukul 03.45 WITA, masinis jaga melihat asap di car deck dan melaporkannya kepada mualim jaga. Laporan tersebut kemudian diteruskan kepada nakhoda.
Upaya pemadaman dilakukan menggunakan sprinkler manual. Namun, api tidak berhasil dipadamkan sehingga nakhoda menginstruksikan penumpang menggunakan alat keselamatan dan menuju master station. Berita darurat juga disiarkan.
Pada pukul 04.40 WITA, kemudi dilaporkan tidak berfungsi. Pada saat bersamaan, kobaran api mulai mencapai titik kumpul. Kondisi panas juga menyebabkan sekoci tidak dapat diturunkan.
"Akhirnya, 12 inflatable life raft dilepaskan dan proses penyelamatan penumpang dilakukan," ujar Dudy.
KMP Putri Yasmin membawa 212 orang. Sebanyak 211 penumpang dan kru selamat, sementara satu penumpang meninggal dunia. Dudy juga menyebut terdapat laporan masyarakat mengenai empat orang yang masih dalam pencarian. Laporan tersebut selanjutnya diverifikasi melalui proses pencarian dan pendataan.
Berbeda dengan dua kasus sebelumnya, KLM Nurulsalsa 01 mengalami kecelakaan berupa tenggelam. Kapal penumpang tradisional tersebut melayani rute Pelabuhan Jampea menuju Pelabuhan Benteng Selayar di wilayah Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.
Pada 15 Juli 2026 pukul 06.00 WITA, KLM Nurulsalsa 01 berangkat dari Jampea menuju Benteng Selayar.
Sekitar pukul 11.25 WITA, Unit Penyelenggara Pelabuhan Jampea menerima informasi bahwa kapal mengalami mati mesin dan terombang-ambing sekitar empat mil laut di selatan Pulau Polassi.
Koordinasi kemudian dilakukan dengan sejumlah pemangku kepentingan dan berita mengenai kondisi kapal dipancarkan. Pada pukul 13.36 WITA, sebagian penumpang berhasil dievakuasi oleh kapal nelayan. Namun, proses pertolongan menghadapi kendala akibat kondisi cuaca.