Pada pukul 17.33 hingga 19.55 WITA, bantuan kemudian melibatkan berbagai unsur, termasuk Basarnas, pemerintah daerah, sejumlah kapal, dan KRI.
Pada pukul 22.00 WITA, KLM Harapan Kita berhasil menemukan korban berdasarkan sinar cahaya. Para korban ditemukan berkelompok dengan menggunakan life jacket dan life raft.
Operasi pencarian kemudian terus dilakukan pada 16 hingga 17 Juli dan dilanjutkan secara intensif oleh tim SAR gabungan. Pada 21 hingga 23 Juli 2026, ditemukan tambahan penumpang yang selamat maupun meninggal dunia.
Dalam pemaparan tersebut, Dudy menyebut KLM Nurulsalsa 01 membawa 76 orang. Sebanyak 56 penumpang dan kru selamat, empat orang meninggal dunia, dan 14 orang belum ditemukan.
Kejadian tersebut menjadi evaluasi serius terhadap pengawasan kapal tradisional, manifes, kapasitas angkut, kesiapan alat keselamatan, serta pengawasan keberangkatan kapal.
Sementara itu, insiden KM Prince Soya terjadi ketika kapal sedang bersandar di pelabuhan umum Samarinda. Kapal milik PT Bunga Teratai tersebut membawa 37 orang kru dan seluruhnya berhasil selamat. Kejadian ini dikategorikan sebagai kecelakaan kerja.
Dudy menjelaskan, pada 1 Agustus 2026 pukul 08.00 WITA dilakukan kegiatan maintenance pada railing kapal yang melibatkan tim las dari galangan.
Sekitar pukul 10.00 WITA, dilakukan pelepasan tangki ekspansi atau alat pemanas udara yang sudah lama tidak digunakan. Setelah dilepas, terlihat cairan keluar dari alat tersebut.
Sekitar pukul 10.50 WITA, pekerja melakukan pengelasan dudukan life raft di area yang tidak jauh dari alat tersebut. Saat pekerjaan berlangsung, api menyambar cairan dan kemudian menjalar.