Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

PHK Tembus 43 Ribu Orang, Apindo Minta Penyelesaian Masalah di Hulu Industri

Rohman Wibowo , Jurnalis-Jum'at, 21 Agustus 2026 |17:17 WIB
PHK Tembus 43 Ribu Orang, Apindo Minta Penyelesaian Masalah di Hulu Industri
Apindo soal PHK (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) belakangan ini merupakan dampak di hilir akibat belum tuntasnya berbagai persoalan mendasar di sektor hulu industri.

Dunia usaha meminta pemerintah dan pemangku kepentingan tidak hanya berfokus pada statistik angka korban efisiensi, melainkan segera menghadirkan solusi konkret untuk menyelamatkan kelangsungan dunia usaha.

Ketua Apindo Shinta Kamdani menegaskan bahwa persoalan ketenagakerjaan tidak boleh disikapi secara parsial hanya dengan melihat data penutupan pabrik. Langkah penyelamatan sektor riil harus difokuskan pada penuntasan hambatan struktural (debottlenecking) agar pelaku usaha tidak terpaksa mengambil kebijakan rasionalisasi tenaga kerja.

"Saya sudah sampaikan berkali-kali, jadi PHK itu cuma di hilirnya, isunya itu banyak di hulunya karena banyak PHK terjadi akibat persoalan hulu tidak bisa diselesaikan. Kami tidak mau hanya melihat angka, melainkan bagaimana solusinya agar PHK tidak terjadi, dan bagi pengusaha PHK selalu menjadi opsi terakhir," ujar Shinta saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (21/8/2026).

Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, jumlah tenaga kerja yang terimbas PHK sepanjang Januari hingga Juli 2026 tercatat mencapai 43.805 orang. Gelombang efisiensi tersebut sebagian besar menghantam kawasan industri manufaktur di Pulau Jawa, terutama sektor-sektor yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Shinta menyoroti kerentanan yang terus membayangi sektor manufaktur padat karya akibat akumulasi beban operasional dan keterbatasan rantai pasok. Persoalan pasokan bahan mentah hingga tingginya biaya energi menjadi faktor penentu yang menekan kinerja industri nasional.

"Kebanyakan yang terdampak berhubungan dengan industri padat karya, seperti tekstil dan garmen yang dari dulu masih menjadi isu. Sektor padat karya sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku dan pasokan gas industri yang berbiaya besar, sehingga akan sangat berdampak bila ini tidak diselesaikan," jelas Shinta.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement