Di sektor petrokimia, PT Chandra Asri Pacific Tbk (Chandra Asri Group) menjadi salah satu motor utama pengembangan industri petrokimia nasional. Perusahaan tersebut merupakan perusahaan pertama di Indonesia yang mengoperasikan naphtha cracker untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri domestik.
Sementara di sektor energi terbarukan, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mengoperasikan berbagai lapangan panas bumi dengan total kapasitas mencapai 926 MW. Kapasitas tersebut menjadi bagian dari kontribusi grup dalam menyediakan listrik bersih sekaligus mendukung agenda transisi energi Indonesia.
Ekspansi Regional dengan Kendali Domestik
Dalam beberapa tahun terakhir, Grup Barito Pacific meningkatkan ekspansi bisnis secara terintegrasi. Di sektor petrokimia, Chandra Asri Group terus menambah kapasitas produksi dan mengembangkan berbagai produk turunan untuk mendukung kebutuhan industri domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Di sektor energi, Barito Renewables juga terus meningkatkan kapasitas terpasang energi hijau di wilayah operasionalnya.
Strategi ekspansi tersebut kini diperluas ke pasar regional melalui investasi dan akuisisi sejumlah aset strategis di luar negeri. Meski demikian, ekspansi regional tersebut tetap diarahkan untuk memperkuat basis bisnis dan industri di Indonesia.
“Ini merupakan strategi untuk mengkonsolidasikan pendapatan di Indonesia yang artinya memastikan bahwa skala usaha, pendapatan, keahlian, akses pasar, dan kapasitas pendanaan yang diperoleh melalui ekspansi regional tetap berada dalam kendali dan masuk ke laporan keuangan kami di sini,” tambah Rudy.
Kepemilikan Aster di Singapura menjadi salah satu bagian penting dari strategi tersebut. Aset regional ini memberikan Chandra Asri Group akses terhadap bisnis energi dan petrokimia yang lebih luas, sekaligus memperkuat kemampuan grup dalam melayani kebutuhan pasar Indonesia.
Investasi Berkelanjutan di Indonesia
Di tengah ekspansi regional, investasi Grup Barito Pacific di dalam negeri juga terus berlanjut.
Saat ini, Chandra Asri tengah membangun pabrik chlor-alkali dan ethylene dichloride atau CA-EDC dengan nilai investasi lebih dari US$800 juta. Hingga pertengahan 2026, progres konstruksi proyek tersebut telah mencapai 72 persen dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.
Proyek yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional tersebut dirancang untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku kimia strategis sekaligus memperkuat rantai industri domestik. Pembangunan proyek ini juga mendapat dukungan investasi dari Danantara Indonesia dan Indonesia Investment Authority.
Di sektor energi terbarukan, Barito Renewables mengoperasikan kapasitas terpasang sekitar 1 gigawatt yang terdiri atas pembangkit panas bumi dan tenaga angin di sejumlah provinsi di Indonesia.
Perseroan juga terus meningkatkan kapasitas pembangkit panas bumi di Salak, Darajat, dan Wayang Windu. Ekspansi tersebut diarahkan untuk membawa kapasitas panas bumi grup melampaui 1 gigawatt pada akhir 2026.
Selain energi terbarukan, Barito Pacific memiliki pijakan di sektor infrastruktur kelistrikan melalui Jawa 9 dan 10. Kedua unit pembangkit tersebut masing-masing memiliki kapasitas 1.000 megawatt dan dijalankan bersama Indonesia Power.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.